Hingga saat ini, kemampuan AI sejatinya belum bisa menggantikan peran manusia secara total.

Aksi PHK massal yang terjadi belakangan juga tidak ditujukan langsung untuk menggantikan manusia, tetapi restrukturisasi organisasi.

Akan tetapi, dari tren PHK massal itu, AI setidaknya sudah dipakai perusahaan untuk membenarkan tindakan yang mengorbankan pekerja.

Realita ketidakpastian pekerjaan akibat AI itu yang rasanya tidak tercermin dalam pidato para bos perusahaan di hadapan wisudawan.

Para Bos yang Tidak Peka Situasi

Sarah Kreps, seorang profesor Universitas Cornell yang telah mempelajari respons masyarakat terhadap teknologi baru, mengatakan bahwa para bos teknologi yang berpidato itu tidak peka terhadap situasi.

“Para eksekutif teknologi ini tidak memahami situasi.

Anak-anak ini telah menghabiskan ratusan ribu dolar untuk gelar yang mereka tidak tahu akan bermanfaat bagi mereka,” kata Kreps.

Sementara itu, pendiri perusahaan humas teknologi Crackle PR, Parry Headrick mengatakan, pidato kelulusan yang disampaikan para CEO tentang AI telah menjadi masalah komunikasi yang sebenarnya dapat dicegah.

Menurut Headrick, para bos itu seharusnya mengakui dan meyakinkan kekhawatiran para mahasiswa, sekaligus menasihati mereka untuk beradaptasi, bukan memerintah mereka untuk bersiap dan melakukan sesuatu.

Headrick menekankan bahwa pidato tentang AI yang disampaikan para bos teknologi itu kurang sesuai dengan kondisi mahasiswa.

“Lalu apa yang harus dilakukan oleh siapa pun yang masih muda dan bersekolah ketika para eksekutif teknologi ini membual tentang Revolusi Industri lanjutan, sedangkan mereka tidak mampu membeli bahan makanan atau membayar sewa?”

>>> SpongeBob SquarePants Masih Tayang di 2026 dengan Season 17

kata Headrick.