"Capaian di kuartal I-2026 ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa langkah transformatif yang kami jalankan kini mulai membuahkan hasil.

Kami berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan demi memastikan Kimia Farma kembali menjadi kebanggaan industri kesehatan nasional," ujar dia.

>>> DPR Pastikan Mandat Baru Bank Indonesia Tidak Ganggu Independensi

Strategi Menghadapi Tekanan Global

Guna menghadapi tekanan global, Kimia Farma memperkuat efisiensi biaya, optimalisasi portofolio produk, diversifikasi pemasok, serta meningkatkan penggunaan bahan baku lokal demi menjaga daya saing.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Kimia Farma Willy Meridian menambahkan, perbaikan fundamental perusahaan telah terlihat sejak tahun 2025 melalui tren EBITDA yang kembali positif sebagai tolok ukur kesehatan operasional.

"Jika melihat indikator EBITDA, yang menurut kami merupakan salah satu ukuran penting kesehatan perusahaan, tren saat ini masih lebih baik dibandingkan tahun lalu," kata Willy.

Mitigasi terhadap pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi juga dilakukan melalui penguatan lini komersial, peningkatan penjualan, penyempurnaan proses bisnis, serta optimalisasi fasilitas manufaktur.

"Kami melakukan penguatan penjualan, efisiensi operasional, serta penyempurnaan proses bisnis, termasuk di sisi manufaktur.

Harapannya berbagai tantangan seperti pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi dapat kami mitigasi dengan lebih baik," ujarnya.

Kimia Farma juga fokus memperkuat posisi sebagai produsen bahan baku obat dalam negeri untuk menekan ketergantungan impor.

Pemerintah melalui Danantara telah mengumpulkan pelaku industri farmasi BUMN dan swasta untuk merumuskan strategi ketahanan sektor kesehatan nasional.

"Pengalaman pandemi Covid-19 memberikan pelajaran penting bahwa setiap negara pada akhirnya akan mengutamakan kepentingannya sendiri.

Karena itu, ketahanan bahan baku obat nasional menjadi agenda strategis yang sangat penting bagi pemerintah," katanya.

Saat ini, perseroan telah memproduksi sekitar 19 molekul bahan baku obat lokal yang diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan impor serta memperkuat rantai pasok domestik.

Di sisi lain, RUPST pada 3 Juni 2026 menyetujui perubahan pengurus perseroan dengan mengangkat Bonanza Perwira Taihitu sebagai Komisaris, serta memberhentikan dengan hormat Jasmine Karsono dari jabatan Direktur Portofolio, Produk dan Layanan.

>>> Brantas Abipraya Gelar Townhall Meeting untuk Perkuat Komunikasi Terbuka

Susunan direksi Kimia Farma saat ini diisi oleh Djagad Prakasa Dwialam sebagai Direktur Utama, Willy Meridian selaku Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Hadi Kardoko menjabat Direktur Produksi dan Supply Chain, Disril Revolin Putra sebagai Direktur Sumber Daya Manusia, serta Hanadi Setiarto sebagai Direktur Komersial.