Pandangan Analis

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menilai proses konsolidasi berjalan terukur dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian.

>>> Manchester City Pertimbangkan Langkah Hukum Terkait Klaim Transfer Haaland

Fokus utama pemerintah adalah memastikan restrukturisasi dan pengalihan aset memberikan dampak optimal bagi efisiensi fiskal.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, mengatakan merger masih berpeluang selesai akhir 2026.

Namun, risikonya cukup tinggi sehingga potensi mundur ke 2027 tetap ada karena proses restrukturisasi utang dan valuasi aset.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai target merger di akhir 2026 masih realistis meskipun tantangannya kuat.

Proses penyehatan finansial memakan waktu karena melibatkan konsolidasi keuangan dan restrukturisasi utang.

PP 19/2026 dinilai menjadi payung hukum krusial bagi merger BUMN Karya. Danantara yang bisa menyetujui perubahan penyertaan modal APBN juga menjadi sentimen positif.

Kinerja emiten BUMN Karya diperkirakan masih menghadapi tantangan dari pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga BI ke 5,25% per Mei 2026.

Per April 2026, WIKA membukukan kontrak baru Rp5 triliun, sementara ADHI mengantongi kontrak baru Rp5 triliun, naik 99,41% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

David melihat sektor konstruksi nasional menghadapi tantangan akibat pengetatan moneter dan fluktuasi nilai tukar. Namun, prospek kinerja BUMN Karya ditopang oleh komitmen penyelesaian PSN secara selektif.

Sukarno memperkirakan prospek sektor BUMN Karya di sisa 2026 bisa membaik bertahap, didukung proyek strategis nasional dan program 3 juta rumah.

Tantangan utama masih berasal dari suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah.

>>> Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Kuat di Tengah Tekanan Rupiah

Baik David, Sukarno, maupun Nafan belum memberikan rekomendasi untuk saham emiten BUMN Karya.