Presiden Prabowo Subianto mengaku terkejut setelah menerima laporan bahwa jumlah badan usaha milik negara (BUMN) mencapai 1.077 entitas.

Angka itu jauh di atas perkiraannya yang hanya sekitar 300 hingga 350 perusahaan.

>>> IHSG Ditutup Menguat ke 6.231, 399 Saham Hijau pada Senin Sore

Pemerintah kini menargetkan jumlah tersebut dipangkas menjadi maksimal 350 pada akhir 2026 melalui penutupan, merger, dan konsolidasi.

"Saya mengikuti, tapi saya belum menguasai angka-angka. Saya sendiri anggota kabinet, saya mengira bahwa jumlah BUMN itu berkisar di antara 300 sampai 350.

Saya kaget waktu saya jadi presiden, saya diberi laporan BUMN itu jumlahnya 1.077," kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (20/7).

Menurut Prabowo, besarnya jumlah tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut karena banyak BUMN yang membentuk anak perusahaan hingga beberapa lapis.

"Ini harus kita cek lagi. Ada BUMN yang bikin anak perusahaan, dia bikin lagi cucu perusahaan, dia bikin lagi cicit perusahaan," ujarnya.

Prabowo mengatakan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mulai melakukan konsolidasi terhadap perusahaan-perusahaan tersebut.

Hingga akhir Juli, jumlah BUMN disebut telah berkurang sekitar 250 entitas melalui penutupan, merger, dan konsolidasi.

"Dalam 18 bulan pertama sudah berhasil mengurangi jumlah tersebut dari 1.077.

Akhir bulan ini, 31 Juli, mereka sudah menutup, mengonsolidasikan, memerger, sehingga dari 1.077 berkurang 250 BUMN," katanya.

>>> WNI di Armenia Ditemukan Tewas dengan Mulut dan Tangan Terikat Lakban

Ia menambahkan Danantara melaporkan kepada dirinya bahwa jumlah BUMN ditargetkan turun menjadi maksimal 350 entitas pada 31 Desember 2026.

Dengan demikian, sekitar 700 BUMN akan dikonsolidasikan, digabung, atau ditutup.