Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, mengumumkan dirinya menjadi korban penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan berbentuk konten deepfake.

Pengumuman itu disampaikan di The Telkom Hub Jakarta pada Kamis (4/6/2026).

>>> Astronom Berhasil Susun Peta Medan Magnet Alam Semesta Terbesar

Penyalahgunaan AI tersebut dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan serta penyebaran disinformasi di ruang digital.

Nama dan wajah Raffi Ahmad dicatut untuk konten negatif, termasuk promosi judi online hingga pembentukan citra buruk.

"Saya ini korban deepfake promosi judi online. Ada juga yang Raffi playboy.

Kalau misalnya untuk lucu-lucuan, ya hidup ini kadang ada yang memang bercanda atau apa, tapi kalau sudah yang masuknya fitnah itu tetap merusak juga," ujar Raffi Ahmad.

Raffi Ahmad menjelaskan bahwa perkembangan manipulasi berbasis AI menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan.

Laporan yang diterimanya mencatat produksi konten manipulatif mengalami lonjakan signifikan dari 100 persen hingga mencapai 550 persen.

"Apalagi produksi konten deepfake itu sekarang pelonjakannya sudah lebih dari 100% bahkan 550%. Itu yang harus kita perangi bersama-sama," tegas Raffi Ahmad.

Metode SIFT untuk Lawan Deepfake

Guna menghadapi ancaman siber ini, Raffi Ahmad mengajak masyarakat memperkuat literasi digital lewat metode verifikasi sederhana bernama SIFT.

>>> Sinopsis Gudang Merica: Horor Komedi Ardhito Pramono soal Mahasiswa Koas

Langkah pertama adalah S atau Stop, yakni menahan diri untuk tidak langsung memercayai atau menyebarkan informasi yang belum jelas keabsahannya.

"Stop ini jangan langsung percaya dengan apapun. Kalau hal-hal yang membutuhkan kebenaran, jangan langsung percaya.

Kita cek dulu, apakah ini benar atau tidak," jelas Raffi Ahmad.