Uji forensik ini krusial untuk menentukan penyebab pasti kematian korban.

Fokus pemeriksaan laboratorium meliputi analisis kandungan zat dalam satai ayam, pemeriksaan sampel organ tubuh untuk deteksi racun, serta hasil autopsi untuk melihat kegagalan fungsi organ.

“Meskipun yang bersangkutan mengaku mengirimkan satai, hal itu belum membuktikan bahwa satai tersebut yang menjadi penyebab meninggalnya almarhumah.

Kami masih menunggu hasil resmi dari Dokkes,” jelas AKBP Indra.

Jika hasil forensik menunjukkan adanya zat berbahaya atau indikasi keracunan yang disengaja, polisi akan mengambil langkah hukum tegas.

Status pihak terlibat kemungkinan ditingkatkan.

Polres Boyolali menerapkan pengawasan ketat terhadap terduga pelaku untuk mengantisipasi pelarian atau penghilangan barang bukti. Sejauh ini, P kooperatif dan tidak menghambat penyidikan.

Menantu korban telah menunjuk penasihat hukum untuk mendampingi selama pemeriksaan.

Kapolres menambahkan keterangan saksi disampaikan dengan jelas dan pemeriksaan lanjutan akan dijadwalkan jika ada fakta baru dari laboratorium.

Sebelumnya, kepolisian melakukan ekshumasi terhadap jenazah A pada Sabtu (30/5/2026). Langkah ini diambil setelah keluarga mencurigai kejanggalan dalam kematian korban.

>>> Studi Work-Life Balance 2025: Filipina Terburuk, Indonesia Tak Masuk 20 Besar

Keluarga merasa tidak wajar karena korban meninggal tak lama setelah menyantap satai kiriman. Ekshumasi dan autopsi oleh Biddokkes Polda Jateng diharapkan memberikan jawaban pasti.