Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan klarifikasi tegas mengenai kondisi nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar AS.

Ia membantah keras tudingan yang menyebutkan bahwa pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh kebijakan fiskal pemerintah yang tidak terarah.

>>> PT Perorangan Sektor Jasa Tak Bisa Langsung Pakai PPh Final UMKM 2026

Dalam pernyataannya di Kompleks Parlemen pada Rabu (3/6), Purbaya menekankan bahwa anggapan mengenai kebijakan fiskal yang "ugal-ugalan" sama sekali tidak berdasar.

Ia memastikan bahwa pengelolaan anggaran negara saat ini masih berada dalam jalur yang tepat dan aman.

Kondisi Fiskal dan Reformasi Pajak

Purbaya menjelaskan bahwa indikator fiskal Indonesia saat ini justru menunjukkan performa yang lebih positif jika dibandingkan dengan capaian tahun lalu.

Peningkatan ini terlihat jelas pada sektor penerimaan negara yang tumbuh cukup signifikan.

Menurutnya, lonjakan pendapatan pajak pada tahun 2026 merupakan buah manis dari reformasi perpajakan yang telah dijalankan secara konsisten.

Langkah tersebut diklaim berhasil memperkuat struktur anggaran pendapatan dan belanja negara.

Beberapa poin utama terkait kondisi fiskal terkini menurut Menkeu Purbaya:

  • Realisasi penerimaan pajak mengalami pertumbuhan yang sangat positif dibandingkan periode sebelumnya.
  • Reformasi perpajakan mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan likuiditas anggaran negara.
  • Fondasi fiskal saat ini dinilai jauh lebih stabil dan mampu menyangga kebutuhan ekonomi nasional.

Melalui penguatan sektor pajak tersebut, Purbaya meyakinkan masyarakat bahwa posisi anggaran pemerintah saat ini dalam kondisi yang sangat terjaga.

Hal ini sekaligus mematahkan keraguan pasar mengenai kredibilitas pengelolaan keuangan pusat.

Fokus Stabilitas dan Peran Bank Indonesia

Terkait fluktuasi nilai tukar, Purbaya menegaskan bahwa wewenang penuh dalam menjaga stabilitas rupiah berada di tangan Bank Indonesia (BI).