Porsi simpanan dalam mata uang rupiah di perbankan nasional mengalami penurunan. Sebaliknya, simpanan dalam valuta asing (valas) justru menunjukkan tren kenaikan signifikan.

Para ahli khawatir jika situasi ini terus berlanjut, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi semakin mendalam. Peralihan aset dari rupiah ke valas menjadi indikator yang perlu diwaspadai.

Data Simpanan Perbankan April 2026

Berdasarkan laporan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total nilai simpanan rupiah di perbankan per April 2026 menyusut 2,0% dibanding Maret 2026.

Dibandingkan posisi Desember 2025, simpanan rupiah juga turun 1,5%.

Sementara itu, simpanan valas pada April 2026 meningkat 1,5% dibanding bulan sebelumnya. Pertumbuhan valas semakin mencolok jika dibandingkan dengan Desember 2025, yaitu naik 10,2%.

Berikut rincian nilai simpanan per April 2026:

  • Simpanan Rupiah: Rp 8.506,06 triliun (84,2% pangsa pasar)
  • Simpanan Valuta Asing: Rp 1.600,37 triliun (15,8% pangsa pasar)

Meskipun rupiah masih mendominasi, pertumbuhan valas mulai mengambil porsi lebih besar. Hal ini mencerminkan perubahan preferensi nasabah dalam menyimpan aset.

Analisis Ekonom: Faktor Pelemahan Kurs

Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, mengatakan penurunan simpanan rupiah berkaitan erat dengan pelemahan nilai tukar.

Berkurangnya simpanan rupiah dipicu kekhawatiran nasabah terhadap proyeksi kurs ke depan.

Nasabah korporasi dengan dana besar menjadi pihak paling reaktif.

Mereka mengonversi simpanan rupiah ke valas sebagai langkah lindung nilai, menciptakan efek bola salju bagi pasar uang domestik.

"Penurunan simpanan rupiah bukan pemicu awal pelemahan rupiah, tapi menjadi mekanisme yang memperkuat tekanan nilai tukar," ujar Yusuf, Rabu (3/6/2026).

Peringatan Lembaga Pengembangan Perbankan

Trioksa Siahaan, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), menegaskan tren ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Menjaga likuiditas rupiah yang memadai di perbankan sangat krusial.