Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah hingga mendekati level psikologis baru.

Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), mata uang Garuda terpantau turun 82 poin ke angka Rp17.921 per dolar AS.

>>> Rupiah Nyaris Rp18.000 per USD, IHSG Anjlok 4,9% ke 5.889

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Permintaan terhadap dolar AS melonjak tajam di pasar keuangan.

Harga Minyak Dunia Meroket

Salah satu pemicu utama adalah meroketnya harga minyak mentah internasional.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$94,58 per barel, sementara Brent naik ke US$96,72 per barel.

Ibrahim mengungkapkan bahwa lonjakan harga energi global langsung berdampak negatif pada rupiah. Mata uang lokal kembali terperosok lebih dalam pada perdagangan hari ini.

Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Dari sisi eksternal, situasi geopolitik antara AS dan Iran semakin memanas akibat perselisihan program pengayaan uranium. Potensi gesekan militer antara Iran dan Israel juga menjadi kekhawatiran pasar.

Eskalasi konflik ini mengancam pasokan energi dunia dan memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut. Akibatnya, AS menghadapi ancaman inflasi tinggi karena biaya energi, transportasi, dan logistik membengkak.

Ibrahim berpendapat bahwa inflasi akan memaksa The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Bahkan, ada kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sekali lagi di sisa tahun 2026 jika inflasi belum mereda.

Kombinasi faktor internasional ini menciptakan sentimen negatif yang membuat investor beralih ke dolar AS sebagai aset aman.

Tekanan dari Dalam Negeri

Lonjakan harga minyak dunia juga meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk mendanai impor energi nasional.