Kesenjangan ekonomi di Australia semakin mencolok.

Laporan terbaru Oxfam Australia berjudul 2026 Australian Financial Review Rich List menunjukkan lonjakan kekayaan luar biasa bagi para miliarder di tengah kondisi ekonomi yang sulit bagi warga biasa.

>>> HBA Juni 2026 Naik Kompak, Ini Rincian Terbaru dari ESDM

Akumulasi kekayaan para miliarder Australia naik sebesar US$25,7 miliar atau setara Rp458,66 triliun dalam setahun terakhir.

Angka itu berarti pundi-pundi mereka bertambah sekitar US$50.000 atau hampir Rp892,35 juta setiap menitnya.

Hingga 2026, total kekayaan seluruh miliarder di Negeri Kanguru menembus US$686 miliar. Dengan kurs Rp17.850 per dolar AS, nilai itu mencapai Rp12.243 triliun.

Kontras dengan Kemiskinan

Kondisi ini berbanding terbalik dengan realitas sosial.

Data Acoss mengungkapkan sekitar 3.706.000 warga Australia hidup dalam kekurangan, termasuk 757.000 anak di bawah usia 15 tahun.

Satu dari tiga rumah tangga mengalami kerawanan pangan sepanjang tahun lalu. Hal ini mencerminkan sulitnya keluarga memenuhi kebutuhan makan sehari-hari akibat tekanan ekonomi.

Jumlah miliarder justru mencatat rekor tertinggi baru. Saat ini terdapat 178 orang kaya baru dalam daftar, naik 17 orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Pendorong Utama: AI dan Pusat Data

Sektor teknologi menjadi mesin uang utama. Kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data menjadi kontributor terbesar bagi penambahan nilai aset mereka.

Beberapa nama baru yang masuk jajaran miliarder tahun ini antara lain:

  • Anthony El-Hazouri dan Charbel Hazzouri, pengembang properti terkemuka.
  • Katrina Leslie, pendiri platform lowongan kerja berbasis AI.
  • Chris Elisson, pengusaha besar di sektor pertambangan.
  • Daniel dan Georgia Contos, sukses melalui label fesyen White Fox.
  • Adrian dan Peter Puljich, pengembang proyek properti mewah.