Pengiriman ponsel pintar di seluruh dunia diproyeksikan turun sebesar 13% sepanjang tahun 2026. Penurunan tahunan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah industri seluler.

Laju perlambatan penjualan diperkirakan paling dalam di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Pengiriman ponsel di wilayah tersebut diproyeksikan anjlok hingga lebih dari 20%.

>>> Tom Holland Nantikan Hadirnya Spider-Man Generasi Baru di MCU

Berbeda dengan penurunan sebelumnya yang dipicu pelemahan ekonomi, kondisi kali ini berakar dari persaingan pasokan komponen utama, yaitu chip memori DRAM.

Kebutuhan DRAM melonjak drastis seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Komponen tersebut kini sangat dibutuhkan untuk melatih model AI dan menjalankan layanan berbasis AI di data center raksasa.

Akibatnya, alokasi DRAM yang semula untuk ponsel dan laptop beralih ke pengembangan model bahasa besar (LLM).

Produsen chip seperti Samsung dan SK Hynix lebih memilih memasok memori ke perusahaan AI.

Sektor AI bersedia membayar harga jauh lebih tinggi dibandingkan pembuat ponsel yang harus menekan biaya.

Dampak pada Ponsel Murah

Dampak pergeseran pasokan ini sudah terlihat pada ponsel kelas bawah di bawah Rp 2 juta.

Dua tahun lalu, konsumen bisa mendapatkan ponsel dengan RAM 4-6 GB dan penyimpanan 64-128 GB.

Namun sepanjang 2026, standar tersebut berubah drastis. Produsen terpaksa menurunkan spesifikasi atau menaikkan harga.

>>> Bug Sub-Agent Claude Code Picu Gangguan Massal Layanan Claude AI

Saat ini, ponsel baru di kelas harga terendah rata-rata hanya dilengkapi RAM 2-3 GB dan penyimpanan 32 GB.

Kapasitas tersebut sangat terbatas untuk aplikasi masa kini.

Performa pemrosesan data menjadi lebih lambat, kamera diturunkan kualitasnya, dan banyak fitur dipangkas. Untuk mendapatkan spesifikasi setara ponsel murah 2024, konsumen harus membayar 30-40% lebih mahal.