Sekitar 10% populasi dunia mengalami tinnitus, yaitu sensasi berdenging atau bersiung di telinga tanpa sumber suara eksternal. Hingga kini, belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan kondisi ini.

Pendekatan yang paling umum dilakukan adalah menutupi suara tersebut untuk mengurangi ketidaknyamanan. Namun, sebuah studi terbaru menawarkan kemungkinan baru: perubahan pola makan.

>>> Peretas Ungkap Aplikasi AI Suno Curi Jutaan Lagu Berhak Cipta

Hubungan antara Makanan dan Risiko Tinnitus

Analisis yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Open mengamati data dari delapan studi observasional yang melibatkan lebih dari 300.000 orang.

Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi buah, serat pangan, produk susu, dan kafein dikaitkan dengan penurunan risiko tinnitus.

Para peneliti menduga makanan tersebut memiliki efek perlindungan pada pembuluh darah dan saraf, terutama dengan meningkatkan aliran darah ke telinga bagian dalam.

>>> Lenovo C700 Cloud Handheld Rilis Agustus, Layar 120Hz Tak Cukup Meyakinkan

Selain itu, nutrisi berkualitas tinggi dapat mengurangi kerusakan oksidatif dan peradangan.

Meski demikian, temuan ini masih perlu ditafsirkan hati-hati karena sifat studi yang observasional. Belum bisa ditarik kesimpulan sebab-akibat yang kuat.

Bagi jutaan penderita tinnitus, gagasan bahwa pola makan bisa berperan memberikan secercah harapan.

>>> Matt Damon Pastikan Kembali sebagai Jason Bourne, Film Baru Sedang Digarap

Pola makan seimbang tentu tidak akan merugikan, dan perubahan gaya hidup dapat menjadi pelengkap pengobatan yang ada.