• Bit Konvensional: Hanya bisa berada di salah satu kondisi, yaitu nilai 0 atau 1 secara bergantian.
  • Qubit Kuantum: Mampu berada di beberapa kondisi secara bersamaan, sehingga kapasitas pengolahan data berlipat ganda secara eksponensial.

Teknologi qubit inilah yang menjadi kunci mengapa komputer kuantum mampu memberikan performa komputasi jauh melampaui superkomputer saat ini.

Peran Strategis Perangkat Keras AMD

Dalam kerja sama ini, SQC memanfaatkan platform AMD Zynq UltraScale+ RFSoC sebagai pusat kendali sistem kuantum.

Platform ini dirancang untuk mengatur serta membaca data dari qubit dengan ketelitian sangat tajam.

Selain sistem kendali, SQC juga mengandalkan prosesor AMD Ryzen Threadripper dalam proses pengembangan. Klaster komputasi bertenaga besar ini digunakan untuk menjalankan simulasi rumit serta pemodelan perangkat lunak kuantum.

Berikut rincian komponen AMD yang digunakan SQC:

  • Zynq UltraScale+ RFSoC: Mengatur dan membaca data qubit melalui pulsa analog secara presisi.
  • Ryzen Threadripper: Menjalankan klaster simulasi, pemodelan data, dan pengembangan perangkat lunak.

Penggunaan perangkat keras khusus ini memastikan setiap instruksi ke qubit berjalan dengan kecepatan yang dibutuhkan.

Hal ini krusial mengingat sistem kuantum memerlukan stabilitas dan performa tinggi agar tetap reliabel.

Ramon Buckland, Head of Software SQC, menekankan bahwa kontrol penuh terhadap setiap aspek pulsa analog sangat menentukan keberhasilan sistem.

>>> Kisah Cho Wi-je: Dari Kasta Kedua ke Piala Dunia 2026, Kejutan Baru Timnas Korea Selatan

Melalui platform AMD, mereka mampu memaksimalkan keandalan yang menjadi syarat mutlak dalam operasional komputasi kuantum.