Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), membongkar rahasia di balik ketangguhan ekonomi Indonesia saat menghadapi krisis keuangan global 2008.

Hal itu disampaikan dalam forum di Institut Perbanas, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

>>> LPS: Likuiditas Perbankan Masih Aman meski Aktivitas PUAB Naik di 2026

Menurut SBY, meskipun gejolak ekonomi dunia saat itu sangat dahsyat, Indonesia mampu bertahan dan menjaga stabilitas dengan baik.

Ia menekankan bahwa krisis tersebut menjadi salah satu ujian besar selama masa kepresidenannya.

Faktor Kunci Ketahanan Ekonomi

SBY menjelaskan beberapa faktor utama yang menjadi modal penting bagi Indonesia. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dalam menjaga roda ekonomi tetap berputar di tengah ketidakpastian global.

Pertama, kepercayaan publik dan pelaku pasar merupakan aset berharga saat krisis melanda. Kedua, kebijakan fiskal yang diambil pemerintah dilakukan dengan sangat hati-hati untuk meminimalkan risiko.

Selain itu, kuatnya permintaan domestik menjadi penggerak utama ekonomi ketika jalur ekspor terganggu. Koordinasi yang solid antara pengambil kebijakan, otoritas moneter, dan sektor perbankan juga berperan penting.

"Kami belajar bahwa kredibilitas itu penting di masa penuh ketidakpastian. Pasar tidak hanya mendengarkan angka, tetapi juga kualitas tata kelola," ujar SBY.

>>> Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 3 - 7 Juni 2026

Rekonstruksi Aceh dan Pemulihan Martabat

Dalam kesempatan yang sama, SBY juga mengenang proses rekonstruksi Aceh pasca-tsunami. Baginya, pembangunan kembali Aceh bukan sekadar proyek fisik, melainkan langkah memulihkan martabat warga.

Ia menekankan bahwa keberhasilan pemulihan sangat bergantung pada rasa percaya diri masyarakat dan perdamaian abadi. "Pembangunan menjadi berkelanjutan ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari proses itu," tegasnya.

Peran Negara Berkembang dalam Isu Iklim

SBY juga menyoroti isu perubahan iklim. Ia mengenang keterlibatan Indonesia dalam Konferensi Iklim di Bali pada 2007.

Menurutnya, negara berkembang tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari solusi global.

Namun, ia mencatat bahwa implementasi solusi iklim harus mengedepankan keadilan.

Beberapa syarat yang ia sampaikan meliputi prinsip keadilan, target realistis, dukungan pendanaan, dan transfer teknologi dari negara maju.

>>> Harga Emas Antam 2 Juni 2026 Turun Rp 25.000 per Gram, Berikut Rincian Terbarunya

Secara keseluruhan, SBY menekankan bahwa kepemimpinan kuat dan tata kelola baik adalah kunci menghadapi tantangan. Pengalaman Indonesia di masa lalu diharapkan menjadi referensi bagi generasi pemimpin saat ini.