Upaya diplomatik untuk mengakhiri perselisihan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru. Kedua negara terus menjalin komunikasi intensif dengan saling bertukar pesan.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme tinggi terkait kelanjutan perundingan. Ia meyakini kesepakatan damai dengan Teheran dapat segera difinalisasi pada pekan depan.

>>> Harga Minyak Dunia Tembus US$95, Negosiasi AS-Iran Macet Jadi Pemicu Terbaru

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan ABC News pada Selasa, 2 Juni 2026. Ia mengindikasikan prospek tercapainya kesepakatan sudah di depan mata.

Trump menekankan keberhasilan di meja perundingan memiliki nilai yang sangat besar. Menurutnya, kesepakatan diplomatik bisa jauh lebih baik dibandingkan kemenangan melalui kekuatan militer.

Meski optimistis, Trump mengakui proses diplomasi dengan Iran tidak mudah. Ia menyebut Iran sebagai negara besar dengan sejarah permusuhan panjang terhadap AS.

Respons Diplomatik Iran

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan pernyataan senada terkait komunikasi yang berlangsung. Melalui unggahan di Telegram pada Minggu, 31 Mei 2026, ia mengonfirmasi adanya pertukaran pesan.

Namun, Araghchi bersikap lebih hati-hati menanggapi spekulasi yang beredar. Ia menegaskan selama hasil nyata belum tercapai, penilaian terhadap proses ini belum bisa dilakukan.

Menlu Iran meminta publik tidak menelan mentah-mentah kabar spekulatif. Informasi yang tidak berdasar secara resmi dianggapnya tidak perlu ditanggapi serius.

Perkembangan Negosiasi

Kedua negara masih aktif bertukar proposal dan pesan diplomatik hingga saat ini. Presiden Trump menargetkan kesepakatan dapat ditandatangani pada pekan depan.

Gencatan senjata sementara sudah mulai diberlakukan sejak 8 April melalui mediasi Pakistan. Kedua belah pihak berupaya beralih dari gencatan senjata menuju perdamaian permanen.