Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengakui bahwa tim kampanye Donald Trump gagal mengelola komunikasi publik terkait perilisian berkas investigasi Jeffrey Epstein.

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam wawancara di podcast "The Joe Rogan Experience" pada Rabu (12/2).

>>> Peringatan Tornado di New Jersey Berakhir, Badai Petir dan Kabut Asap Masih Mengancam

"Saya katakan dengan terus terang, kami benar-benar mengacaukan komunikasi soal berkas Epstein," ujar Vance.

Vance menegaskan bahwa masalah internal itu bukan karena upaya Gedung Putih menyembunyikan informasi dari publik terkait sejarah kriminal sang finansir.

"Tapi apakah saya pikir alasan kami mengacaukan komunikasi adalah karena kami mencoba menyembunyikan sesuatu? Tidak," jelas Vance.

Pernyataan Pam Bondi Picu Ketidakpercayaan

Wakil Presiden menunjuk pernyataan mantan Jaksa Agung Pam Bondi sebagai sumber utama ketidakpercayaan publik terhadap dokumen tersebut.

Bondi sebelumnya mengklaim ada daftar klien di mejanya dan membagikan map berisi dokumen yang sudah tersedia sebelumnya kepada para influencer media sosial sebelum akhirnya diberhentikan pada April.

"Saya tidak tahu apa tujuannya, tapi saya tahu efeknya adalah membuat orang tidak percaya pada seluruh upaya ini," kata Vance.

Vance menilai Bondi tidak bertindak dengan niat jahat, melainkan bereaksi buruk terhadap tekanan politik yang intens.

"Saya pikir Pam mencoba merespons momen politik.

Saya pikir dia melebih-lebihkan apa yang kami miliki dan tidak miliki, dan dia mendapat kecaman publik dari banyak orang, termasuk saya," kenang Vance.

Kaitan Epstein dengan Intelijen

Dalam wawancara selama tiga jam itu, Vance juga membahas teori tentang hubungan Epstein dengan organisasi intelijen.

Ia mencatat bahwa investigasi federal tahun 2007 dan 2008 yang dipimpin mantan Jaksa AS Alex Acosta terlalu sempit.