Trump Gunakan Jabatan untuk Rusak Kepercayaan pada Pemilu AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan wewenang kepresidenan dan badan intelijen untuk mencoba merusak kepercayaan terhadap pemilu AS dalam pidato resmi pada Kamis (13/3).
Pidato dari East Room Gedung Putih itu dinilai sebagai upaya untuk mengguncang sistem pemilu menjelang pemilu paruh waktu November.
>>> Pasukan AS Naiki Kapal Dagang di Teluk Oman dalam Rangka Blokade Iran
Trump mengklaim bahwa China secara ilegal memperoleh data pemilih 220 juta warga AS. Ia juga menuduh China ikut campur untuk melemahkan kampanyenya pada 2020.
Namun, klaim tersebut telah diselidiki oleh pejabat intelijen.
Pada 2021, mereka menyimpulkan dengan keyakinan tinggi bahwa China tidak melakukan upaya intervensi untuk mengubah hasil pemilu presiden.
Gedung Putih merilis sejumlah dokumen yang sebelumnya diklasifikasikan untuk mendukung klaim Trump. Namun, dokumen tersebut banyak yang disunting sehingga sulit dinilai.
Analisis CNN menyimpulkan tidak ada temuan baru yang signifikan dalam dokumen itu. Langkah ini dinilai sebagai strategi klasik Trump untuk mengaburkan fakta.
>>> 7 Staycation Hidden Gem di Jawa Barat yang Jarang Diketahui, Bikin Betah!
Trump juga menyebut insiden di Muskegon, Michigan, di mana petugas kampanye mengakui mengajukan formulir pendaftaran pemilih dengan nama palsu.
Insiden itu tidak menghasilkan suara ilegal dan sudah diketahui oleh panitia setempat.
Ia juga mengklaim Departemen Keamanan Dalam Negeri mengidentifikasi lebih dari 270.000 non-warga negara dalam daftar pemilih di empat negara bagian.
Namun, ia tidak menjelaskan metode identifikasinya.
Konstitusi AS tidak memberikan wewenang kepada presiden atas pemilu, melainkan kepada negara bagian. Namun, Trump menyatakan akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk mengendalikan pemilu.
>>> Kenapa Anak Harus Masuk SD di Usia 7 Tahun? Ini Alasan Psikologis dan Tumbuh Kembangnya
Departemen Keamanan Dalam Negeri disebut akan mengadakan pengarahan tentang kerentanan sistem pemilu negara bagian dan memerintahkan penghapusan non-warga negara dari daftar pemilih.
Update Terbaru
Bupati Deli Serdang Copot 2 Pejabat Akibat Pesan Viral, Ini Cara Terbarunya
Jumat / 17-07-2026, 12:38 WIB
China Terapkan 5 Inovasi Hijau dan Kereta Cepat yang Ubah Dunia pada 2026
Jumat / 17-07-2026, 12:38 WIB
Update Harga iPhone 13 pada Juli 2026: Spesifikasi, Fitur, dan Kisaran Harga Bekas yang Masih Sangat Menggiurkan!
Jumat / 17-07-2026, 12:31 WIB
Sounders Jamu Timbers di Lumen Field, Derbi Cascadia Kembali Bergulir
Jumat / 17-07-2026, 12:22 WIB
JD Vance Bela Petarung UFC yang Hina Michelle Obama
Jumat / 17-07-2026, 12:22 WIB
Sidang Ijazah Jokowi: Dokter Tifa Minta Barang Bukti, Tim Hukum Merah Putih Kritik
Jumat / 17-07-2026, 12:21 WIB
PNS di Tokyo Kini Boleh Pakai Celana Pendek demi Hemat Energi
Jumat / 17-07-2026, 12:21 WIB
Dekopin Siap Kawal Agenda Prabowo Jadikan Koperasi Motor Ekonomi Rakyat
Jumat / 17-07-2026, 12:21 WIB
Saham AGAR Masuk Radar BEI usai Kenaikan Harga Tak Wajar
Jumat / 17-07-2026, 12:21 WIB
Poco X8 yang Dikabarkan Batal Kembali Muncul dengan Baterai 9.000 mAh
Jumat / 17-07-2026, 12:21 WIB
Penjualan Pertamax Anjlok 18% Setelah Harga Naik
Jumat / 17-07-2026, 12:21 WIB
TOP 50 Acara Televisi dengan Rating Terbaik Hari ini 18 Juli 2026 ada Wajah Cinta yang Lain Mulai Naik Keposisi 3
Jumat / 17-07-2026, 12:19 WIB
Wakil Presiden AS Akui Tim Trump Salah Kelola Komunikasi Berkas Epstein
Jumat / 17-07-2026, 12:18 WIB
Peringatan Tornado di New Jersey Berakhir, Badai Petir dan Kabut Asap Masih Mengancam
Jumat / 17-07-2026, 12:18 WIB







