Transisi energi global tengah membentuk peta kekuatan ekonomi baru. Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat utama perubahan tersebut.

Persaingan transisi energi mencakup industri, teknologi, investasi, dan geopolitik. Banyak negara maju berlomba mengamankan rantai pasok hijau, mulai dari mineral kritis hingga teknologi penyimpanan energi.

>>> BYD Atto 3 Laku 30 Ribu Unit dalam Sepekan, Ini Spesifikasinya

Posisi Strategis Indonesia

Indonesia memiliki cadangan mineral kritis besar dan pasar domestik luas. Posisi geografis di jalur perdagangan dunia juga menjadi modal penting.

Tanpa strategi matang, Indonesia berisiko hanya menjadi penyedia bahan mentah. Negara juga bisa menjadi pasar konsumsi teknologi hijau buatan bangsa lain.

Ekonomi Pancasila Secara Pragmatis

Konsep Ekonomi Pancasila perlu dimaknai ulang secara pragmatis. Negara berperan sebagai pengarah, pengatur insentif, dan penjaga keadilan.

Mekanisme pasar tidak dibiarkan tanpa kendali, namun ruang gerak pelaku usaha tetap diberikan. Banyak negara maju justru memberikan subsidi besar untuk melindungi industri mereka sendiri.

Indonesia perlu merespons dengan strategi industri yang cerdas dan legal.

Dari Hilirisasi ke Ekosistem Manufaktur Hijau

Hilirisasi mineral kritis merupakan langkah awal yang baik. Namun, Indonesia harus membangun ekosistem manufaktur teknologi hijau secara menyeluruh.

Produksi sel surya, komponen turbin angin, inverter, dan sistem penyimpanan energi perlu dikembangkan. Rantai pasok hijau merupakan rantai nilai panjang yang meliputi:

  • Pertambangan mineral kritis
  • Pemurnian atau smelter
  • Produksi komponen teknis
  • Manufaktur produk jadi
  • Pembangunan proyek dan pemeliharaan
  • Daur ulang komponen

Semakin banyak tahapan yang dikuasai, semakin besar dampak ekonomi bagi masyarakat.

Investasi dan Penguatan Komponen Lokal

Kebijakan investasi harus selektif dan berorientasi jangka panjang. Investasi asing wajib disertai transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja.