Pemerintahan Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5% pada tahun 2027. Target ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal transisi menuju ekonomi produktif berbasis industrialisasi dan teknologi.

Namun, ekonom Paul Krugman pada 1994 memperingatkan bahwa pertumbuhan tinggi bisa menciptakan ilusi kemajuan tanpa produktivitas nyata.

>>> LOOPS Powerbank Lumi 10.000 mAh Resmi Meluncur, Fast Charging 22,5W Harga Rp199 Ribu

Indonesia perlu belajar dari pengalaman tersebut agar tidak terjebak dalam shallow growth.

Transformasi Struktural dan Negara Orkestrasi

Dr. Batara Maju Simatupang menekankan bahwa masalah fundamental ekonomi Indonesia adalah dangkalnya transformasi industrial. Target 7,5% hanya realistis jika struktur ekonomi bergeser dari konsumsi ke produktivitas.

Konsep "Negara Orkestrasi" menjadi krusial.

Negara tidak lagi sekadar regulator, melainkan pengarah strategis yang mengintegrasikan sektor industri, energi, pangan, teknologi, logistik, pembiayaan, dan SDM.

Dalam model ini, pasar tetap berperan penting, namun negara memastikan arah kebijakan dan koordinasi agar pertumbuhan tidak terfragmentasi.

Delapan Klaster Prioritas Nasional

Berdasarkan RKP 2027, pemerintah telah menyusun delapan klaster prioritas untuk mendukung ekonomi produktif:

  • Kedaulatan pangan terintegrasi dari hulu ke hilir
  • Kemandirian energi melalui energi baru terbarukan
  • Hilirisasi industri strategis
  • Infrastruktur untuk konektivitas ekonomi
  • Penguatan ekonomi desa
  • Peningkatan kualitas SDM
  • Teknologi dan inovasi digital
  • Sistem pembiayaan dan logistik terintegrasi

Kedaulatan pangan dipandang sebagai instrumen stabilitas inflasi dan daya beli. Sementara itu, energi menjadi fondasi industrialisasi, dengan program seperti B50, E20, dan PLTS 100 GW.

Hilirisasi industri menjadi titik krusial.

Indonesia berupaya beralih dari eksportir bahan mentah menjadi produsen bernilai tambah, melalui ekosistem kendaraan listrik, semikonduktor, dan proyek mobil nasional.

Efisiensi Investasi dan ICOR

Masalah klasik Indonesia adalah investasi besar namun produktivitas rendah, terlihat dari ICOR yang masih tinggi.