Bank Dunia merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5,0%. Angka ini meningkat dari prediksi sebelumnya sebesar 4,7% pada April lalu.

Revisi tersebut tertuang dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026. Bank Dunia menyebut penyesuaian ini mencerminkan kinerja perekonomian kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan.

>>> KSAD Tegaskan TNI AD Tidak Urusi Masalah Begal

Perekonomian Indonesia mengalami akselerasi pesat pada paruh kedua 2025.

Momentum positif mendorong pertumbuhan PDB mencapai 5,6% secara tahunan pada kuartal I/2026, tertinggi sejak kuartal II/2021.

Konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan di awal tahun. Faktor pendukungnya meliputi momen Ramadan dan Idul Fitri, percepatan THR PNS, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis.

Konsumsi swasta sepanjang 2026 diproyeksikan tumbuh sekitar 5,0% dengan sokongan stimulus fiskal. Sementara konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh lebih tinggi hingga 8,7%.

Sektor investasi juga menunjukkan performa solid. Pembentukan modal tetap bruto tumbuh 6,0% pada kuartal I/2026.

>>> Rupiah 11 Juni 2026 Anjlok Nyaris Rp 18.000 Per Dolar AS

Catatan Risiko dan Prospek Jangka Panjang

Meski menaikkan proyeksi, Bank Dunia mencatat ketergantungan pemerintah pada konsumsi sebagai penyangga jangka pendek. Strategi ini berisiko karena ruang fiskal yang semakin terbatas.

Kondisi tersebut dipengaruhi beban subsidi akibat eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak global.

Ketahanan ekonomi juga diuji oleh guncangan sentimen pasar keuangan setelah evaluasi indeks MSCI.

Bank Dunia memproyeksikan inflasi nasional tahun ini sebesar 3,4%. Defisit fiskal Indonesia diperkirakan mencapai 2,8% terhadap PDB.

Untuk jangka panjang, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan PDB Indonesia kembali naik ke 5,2% pada 2027-2028. Namun, pencapaian itu bergantung pada keberhasilan reformasi struktural.

>>> Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pertamax

Tanpa reformasi yang mendorong produktivitas, skema insentif dan stimulus dari sisi permintaan hanya akan meningkatkan pertumbuhan sementara. Hal itu sulit dipertahankan secara berkelanjutan.