Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak memberikan klarifikasi terkait isu keterlibatan prajurit dalam penanganan begal di Jakarta.

Pernyataan itu disampaikan pada Rabu (10/06/2026) untuk meluruskan informasi yang beredar mengenai anggota TNI AD yang disebut ikut mengurusi tindak kriminalitas jalanan.

>>> Rupiah 11 Juni 2026 Anjlok Nyaris Rp 18.000 Per Dolar AS

Menurut Maruli, aparat militer tidak melakukan penindakan hukum secara langsung terhadap pelaku kejahatan. Penurunan aksi kriminalitas di beberapa tempat terjadi karena efek psikologis kehadiran prajurit.

"Siapa yang mengurus begal? Enggak ada yang mengurus begal.

Begal itu jadi takut karena ada tentara, gitu lho. Bukan ngurus-ngurusin.

Ada tentaranya di tempat situ, karena ada begal, melihat tentara, enggak jadi. Seperti itu," ujar Maruli.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Brigadir Jenderal Muhammad Nas menegaskan tidak ada perintah operasional khusus dari pucuk pimpinan tertinggi militer.

>>> Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pertamax

"Dalam tugas OMSP disebutkan membantu tugas Kepolisian dalam menegakkan Kamtibmas.

Hal ini atas permintaan Kepolisian yang disebut sebagai tugas perbantuan," ujar Nas saat dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (29/05/2026).

Nas menambahkan bahwa dukungan personel akan diberikan jika ada permohonan resmi dari instansi terkait. "Tidak ada instruksi khusus, tetapi Panglima TNI mendukung bila ada permintaan," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengaitkan pembangunan markas militer baru dengan penurunan angka kejahatan.

Pemerintah menargetkan pembangunan 150 batalyon teritorial setiap tahun hingga mencapai total 750 Batalyon Infanteri Teritorial di 518 kabupaten dan kota.

>>> Rehan/Gloria Lolos ke Perempat Final Indonesia Open 2026

"Tapi setelah kita berada di situ, membuat pangkalan, begal dan kriminal di situ menjadi hilang di atas 50%," ujar Sjafrie.