Fenomena boneka Labubu kini melanda kolektor mainan global, termasuk Indonesia. Karakter bertelinga panjang dan bergigi runcing ini menjadi buruan yang sulit didapatkan.

Popularitas Labubu melonjak drastis setelah Lisa BLACKPINK mengunggah foto aksesori boneka tersebut pada April 2024. Permintaan terhadap karakter garapan Pop Mart pun meningkat tajam.

>>> Pemerintah Siapkan Skema Pendampingan Terbaru UMKM Masuk Rezim Pajak 2026

Banyak orang rela mengantre berjam-jam demi membawa pulang satu figur koleksi. Efek "Lisa" terbukti menjadikan Labubu tren global yang masif.

Pasar Asia, dari Thailand hingga Indonesia, merespons antusias. Harga boneka Labubu bervariasi tergantung kelangkaan dan ukuran.

Profil Wang Ning: Pendiri Pop Mart

Kesuksesan Labubu tidak lepas dari peran Wang Ning. Ia adalah pendiri sekaligus pemilik Pop Mart, perusahaan mainan seni raksasa asal China.

Wang Ning lahir di Provinsi Henan pada 1987 dan menempuh pendidikan periklanan di Universitas Zhengzhou. Setelah lulus pada 2009, ia memulai karier di Sina Corporation.

Hasrat wirausaha mendorongnya berhenti bekerja setelah setahun. Inspirasi didapat saat perjalanan ke Hong Kong yang membuka matanya terhadap potensi ritel mainan tren.

Ia terkesan dengan jaringan ritel di sana yang menjual produk populer secara modern. Wang memutuskan membawa konsep serupa ke China pada 2010.

Toko Pop Mart pertama dibuka di Zhongguancun, Beijing, yang dikenal sebagai pusat inovasi teknologi. Awalnya, ia menghadapi tantangan dalam manajemen inventaris, staf, dan layanan pelanggan.

Sadar akan keterbatasan, Wang kembali ke bangku pendidikan pada 2014 di Peking University’s Guanghua School of Management.

Keputusan ini menjadi titik balik karena ia bertemu rekan-rekan dengan visi serupa yang kemudian diajak bergabung.