Review Evil Dead Burn: Pesta Darah yang Brutal, Namun Kehilangan Jiwa Drama Familialnya
Waralaba Evil Dead kembali membuktikan bahwa mereka belum kehabisan darah untuk ditumpahkan ke layar lebar. Memasuki pertengahan tahun 2026, Evil Dead Burn hadir membawa angin segar sekaligus dilema bagi para pencinta horor. Di bawah arahan sutradara Sébastien Vaniček, film ini mengambil risiko besar dengan meninggalkan ikon kabin terpencil di tengah hutan yang telah melekat kuat pada DNA waralaba tersebut.
 
Sebagai gantinya, teror kali ini dipindahkan ke ruang tamu sebuah rumah keluarga yang sarat akan konflik, trauma, dan rahasia kelam. Sebuah premis yang menjanjikan perpaduan antara horor supranatural dan drama psikologis. Namun, apakah Evil Dead Burn berhasil mengeksekusi ambisi barunya ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
 

Evolusi Waralaba: Dari Kabin Terpencil ke Rumah Penuh Trauma

Cerita berpusat pada Alice (diperankan dengan apik oleh Souheila Yacoub), seorang perempuan yang harus kembali ke rumah leluhur mendiang suaminya untuk mengurus pemakaman dan urusan warisan. Alih-alih menemukan tempat untuk berduka dan memulihkan diri, Alice justru terjebak dalam sarang racun. Ia disambut oleh lingkungan keluarga yang dipenuhi ketakutan, kebencian terpendam, dan luka emosional yang sudah mengeras.
 
Titik balik yang mengubah drama keluarga ini menjadi mimpi berdarah terjadi ketika para anggota keluarga secara tidak sengaja menemukan Necronomicon—kitab terkutuk legendaries yang menjadi pintu gerbang kebangkitan para Deadites.
 
Sejak momen itu, pertengkaran verbal yang tadinya hanya sebatas manipulasi dan kebencian antaranggota keluarga, berevolusi menjadi pertarungan hidup dan mati yang berlumuran darah. Menariknya, Vaniček dengan cerdas memperlihatkan di babak pertama bahwa ancaman terbesar sebenarnya sudah ada jauh sebelum kitab itu dibuka. Trauma antargenerasi dan hubungan yang toksik telah lebih dulu "menghantui" rumah tersebut.