Bisnis warung tegal (warteg) di Jakarta tengah menghadapi masa sulit. Para pedagang mengeluhkan sepinya pembeli dan lonjakan harga bahan baku yang tidak terkendali.

Kondisi ini jauh lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak pemilik warung merasa usaha kuliner murah ini mulai kehilangan pamor.

>>> Danantara Jadi Eksportir Tunggal CPO-Batu Bara 2026, Airlangga: Resmi Perkuat Tata Kelola

Penurunan Omzet Drastis

Amirah, pedagang warteg di kawasan Senen, Jakarta Pusat, mengungkapkan daya beli masyarakat menurun drastis. Menu andalan seperti daging sapi, cumi-cumi, dan udang tidak lagi laku.

Dahulu omzetnya bisa mencapai Rp5 juta per hari. Kini, mendapatkan Rp500 ribu saja terasa sangat sulit.

Pelanggan lebih memilih lauk sederhana dan murah. Mereka menghindari lauk berharga tinggi demi menghemat pengeluaran.

Pedagang lain, Surono, mencatat penurunan omzet hingga 35 persen dibandingkan periode normal. Ia merasakan dampak serupa pada usahanya.

Beban Modal Semakin Mencekik

Selain sepi pembeli, kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi pukulan telak. Amirah mencontohkan harga minyak goreng kemasan bermerek kini mencapai Rp42.000 per liter.

>>> Dorong Warga Pindah ke Kendaraan Listrik, Pengusaha Incar Insentif Terbaru 2026

Harga cabai rawit menembus Rp70.000 per kilogram. Plastik bening pembungkus juga naik dari Rp10.000 menjadi Rp16.000.

Tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan hasil penjualan yang merosot. Modal membengkak sementara pemasukan menyusut.

Harapan Terhadap Pemerintah

Para pedagang berharap ada langkah nyata dari pemerintah. Mereka mendambakan stabilisasi harga pangan di pasaran.

Surono menekankan bantuan menstabilkan harga minyak goreng dan cabai sangat krusial. Tanpa intervensi, bisnis warteg yang menjadi tumpuan hidup banyak orang akan terus tergerus.

>>> BMKG Prakirakan Cuaca Depok Esok Hari: Panas Terik Siang, Hujan Ringan Malam

Saat ini, pedagang hanya bisa bertahan dengan stok menu sederhana dan mengurangi porsi daging sapi. Mereka berupaya bertahan di tengah badai ekonomi yang membuat penghasilan harian tidak menentu.