Pemerintah Taiwan memberikan reaksi keras terhadap langkah China yang mengusir jurnalis New York Times (NYT) dari wilayahnya.

Pengusiran ini dipicu oleh wawancara yang dilakukan media asal Amerika Serikat tersebut dengan pemimpin Taiwan.

>>> Tokoh Militer dan Pejabat Negara Melayat Ryamizard Ryacudu di Cikeas

Pihak Taiwan menegaskan bahwa tindakan Beijing tersebut tidak akan menghentikan upaya mereka untuk terus bersuara di kancah global.

Taiwan menilai bahwa interaksi antara pemimpin negara demokratis dengan media internasional adalah hal yang sangat wajar dilakukan.

Respon Tegas Kantor Kepresidenan Taiwan

Juru bicara Kantor Presiden Taiwan, Karen Kuo, menyatakan secara terbuka bahwa Taiwan tidak akan membiarkan suaranya diredam oleh tekanan dari pihak manapun.

Pernyataan resmi ini dirilis pada hari Minggu sebagai respons atas kebijakan sepihak China terhadap awak media asing.

Kuo menegaskan bahwa Taiwan memiliki komitmen untuk tetap menjelaskan posisi politik dan kedaulatannya kepada komunitas internasional secara transparan.

Langkah ini dianggap sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam menjaga stabilitas di kawasan Asia Timur.

Berikut adalah poin-poin utama yang disampaikan oleh juru bicara pemerintah Taiwan terkait situasi tersebut:

  • Taiwan akan terus menjalin komunikasi aktif dengan dunia internasional untuk memperjelas kedudukan negara secara stabil.
  • Pemerintah berkomitmen penuh untuk bekerja sama dengan berbagai mitra global yang memiliki kesamaan nilai dan pandangan.
  • Fokus utama kerja sama tersebut mencakup perlindungan terhadap sistem demokrasi dan kebebasan pers yang fundamental.
  • Taiwan menekankan pentingnya menjaga perdamaian serta stabilitas di wilayah Selat Taiwan dan kawasan sekitarnya secara luas.

Penegasan tersebut menunjukkan bahwa Taiwan tidak akan mengubah strategi diplomasinya meskipun menghadapi hambatan dari Beijing.

Perlindungan terhadap kebebasan informasi menjadi salah satu pilar utama yang diperjuangkan oleh pemerintahan Presiden Lai Ching-te.