Berdasarkan olah TKP, polisi menemukan kompor gas portabel dalam posisi mati di teras tenda. Tidak ada bekas muntahan atau tanda kekerasan fisik di dalam maupun luar tenda.

Dugaan sementara, asap sisa pembakaran yang mengandung karbon monoksida (CO) naik dan masuk ke dalam tenda. Bentuk tenda yang mengerucut membuat gas berbahaya terperangkap.

>>> Panduan Wisata Sakura Shanghai 2026: Tips Solo Traveler Aman dan Tanpa Ribet

Iptu Komang menjelaskan gas beracun itu terhirup saat korban beristirahat setelah memasak. Tenda yang tertutup rapat membuat sirkulasi udara sangat minim.

Pihak Dokkes Polda Jawa Tengah mensinyalir korban menghirup gas hasil pembakaran terus-menerus saat tidur. Hal ini diduga menjadi pemicu hilangnya kesadaran hingga kematian masal.

Detail Fasilitas dan Sampel Autopsi

Seluruh peralatan masak dan bahan makanan merupakan milik pribadi korban yang dibawa dari rumah. Di dalam tenda hanya ditemukan perlengkapan tidur standar berupa dua kasur dan sleeping bag.

Petugas menegaskan tidak ada perangkat pemanas ruangan atau water heater di dalam tenda. Informasi ini menepis spekulasi korsleting listrik atau kebocoran alat pemanas.

Proses autopsi memakan waktu lebih lama karena banyaknya sampel yang harus diuji. Kepolisian berkomitmen memberikan pembaruan informasi setelah hasil resmi dari Biddokkes Polda Jawa Tengah turun.

Identitas Para Korban

Peristiwa ini pertama kali diketahui petugas wisata pada Rabu (27/5) saat hendak mengingatkan waktu check out.

Karena tidak ada jawaban, petugas membuka pintu dan menemukan keempat korban sudah tidak bernyawa.

Keempat korban adalah satu keluarga asal Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Mereka adalah Muhammad Ali Munawar (52) sebagai kepala keluarga, dan istrinya Maghfirah (43).

>>> 7 Inspirasi Pagar Rumah Gang Sempit Terbaru 2026, Estetik dan Anti Sumpek

Dua korban lainnya adalah anak-anak mereka, Alvino Evan Hakim (17) dan Bagas Amar Hakiki (21). Jenazah telah dievakuasi dan akan diserahkan kepada pihak keluarga di Ambarawa.