Umat manusia berpeluang melakukan perjalanan ke bintang-bintang jauh dengan metode berlayar memanfaatkan kekuatan cahaya. Teknologi ini disebut layar surya (solar sail).

Layar surya menggunakan lembaran material tipis yang luas untuk menangkap tekanan foton dari cahaya matahari. Metode ini memungkinkan pesawat ruang angkasa melintasi kosmos tanpa membutuhkan bahan bakar konvensional.

>>> NVIDIA Siap Luncurkan Prosesor PC Pertama, Tantang Intel dan AMD

Sebuah studi terbaru yang dipimpin insinyur dari Imperial College London, Debdut Sengupta, mengungkapkan teknologi ini dapat membawa wahana antariksa ke tepi tata surya dalam kurun 10 hingga 20 tahun mendatang.

Pengujian dan Potensi Misi

Pengujian dasar propulsi layar cahaya terbukti berfungsi melalui misi terdahulu seperti Ikaros milik Jepang pada 2010 dan LightSail 2 milik The Planetary Society pada 2019.

Pemanfaatan layar surya di wilayah dalam tata surya yang kaya cahaya menjadi langkah logis berikutnya untuk mempelajari Matahari.

Pesawat ruang angkasa dapat bermanuver atau mempertahankan posisi di orbit yang tidak stabil tanpa pendorong berkat tekanan konstan dari foton.

"Satu misi yang benar-benar akan memanfaatkan keunggulan layar surya adalah misi peringatan badai matahari," kata Bruce Betts, Kepala Ilmuwan dan Manajer Program LightSail di The Planetary Society.

"Misi ini akan memanfaatkan tekanan cahaya konstan dari matahari untuk mempertahankan orbit yang tidak stabil secara langsung antara Bumi dan Matahari...

Hal itu akan memberikan peningkatan peringatan dan detail mengenai badai matahari yang mengarah ke Bumi," jelas Betts.

>>> Sony Luncurkan Smart TV Premium Bravia 9 II dan Bravia 7 II dengan Teknologi True RGB LED

Konsep Ekstrem dan Tantangan

Penelitian mengenai konsep extreme solar sailing juga tengah dilakukan oleh ilmuwan seperti Artur Davoyan dari University of California, Los Angeles.