Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatatkan pencapaian baru dalam Global Liveability Index 2025 yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU).

Jakarta berhasil naik 10 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.

>>> IHSG Terkoreksi, Asing Justru Borong 10 Saham Ini pada Awal 2026

Saat ini Jakarta menduduki posisi ke-132 dari 173 kota di dunia. Tahun lalu, ibu kota berada di peringkat ke-142.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa upaya pembenahan di berbagai sektor berjalan ke arah yang tepat. Indeks tersebut menilai kelayakan hidup kota berdasarkan lima kategori utama.

Kategori itu meliputi stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Pada 2025, Jakarta meraih skor total 62,9 dari 100, naik 2,5 poin dari 2024.

Faktor utama pendorong kenaikan adalah perbaikan infrastruktur dan optimalisasi layanan publik. Langkah konkret meliputi perbaikan akses jalan, rehabilitasi sekolah, dan penguatan sistem kesehatan.

Integrasi transportasi publik yang semakin luas juga berkontribusi besar. Penataan lingkungan kota yang lebih asri turut mendongkrak penilaian.

Peran Pajak Daerah dalam Pembangunan

Di balik kemajuan tersebut, pajak daerah memegang peran krusial. Pajak menjadi instrumen utama pembiayaan program pembangunan pemerintah provinsi.

Untuk tahun anggaran 2025, APBD DKI Jakarta mencapai Rp91,86 triliun. Pajak daerah menjadi tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Berikut rincian sektor utama yang didanai pajak masyarakat:

  • Sektor Pendidikan: alokasi Rp19,75 triliun atau 26,59 persen dari total belanja daerah.
  • Program Kesejahteraan Siswa: pembiayaan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).
  • Kualitas Pendidikan: dana untuk sertifikasi kompetensi siswa SMK serta perbaikan sarana prasarana sekolah.
  • Sektor Kesehatan: dukungan BPJS Kesehatan bagi warga dan penyediaan fasilitas medis.
  • Fasilitas Kesehatan: pengembangan serta pemeliharaan Puskesmas dan RSUD di seluruh Jakarta.