Isu ketahanan energi nasional kembali menjadi sorotan publik. Kekhawatiran akan stabilitas pasokan bahan bakar dan potensi kenaikan harga semakin mengemuka.

Peningkatan tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memicu lonjakan harga minyak dunia. Gangguan rantai pasok global turut memperburuk situasi.

>>> PEVS 2026 Digelar Oktober: Target Transaksi Rp500 Miliar, Banyak Dinanti Kolektor

Masyarakat Indonesia bertanya-tanya seberapa tangguh negara ini menghadapi krisis energi global. Jawabannya terletak pada tiga aspek utama: makroekonomi, geopolitik, dan teknologi.

Kondisi Ketahanan Energi Saat Ini

Menurut Yulian Dekri, ahli energi dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, ketahanan energi Indonesia masih aman untuk jangka pendek.

Namun, untuk jangka menengah hingga sepuluh tahun ke depan, diperlukan langkah serius.

Ketergantungan pada impor energi menjadi titik lemah. Indonesia seperti rumah tangga yang mampu membayar tagihan rutin, tetapi belum memiliki tabungan darurat.

Selama tidak ada gangguan pasokan atau kenaikan harga drastis, semuanya tampak normal. Begitu terjadi gejolak global, kerentanan struktur energi akan terlihat jelas.

Dominasi Bahan Bakar Fosil Masih Tinggi

Kerentanan utama Indonesia adalah dominasi energi fosil dalam bauran energi nasional. Berdasarkan Handbook of Energy & Economy Statistics of Indonesia, proporsi sumber energi saat ini adalah:

  • Batubara: 38 persen
  • Minyak bumi: 34 persen
  • Gas alam: 15 persen
  • Energi Baru Terbarukan (EBT): 15,75 persen

Capaian EBT masih di bawah target Kebijakan Energi Nasional sebesar 17-19 persen pada 2025. Transisi energi bersih masih menghadapi tantangan berat.

Konsumsi energi final Indonesia melonjak 26 persen antara 2018 hingga 2022.

Sektor industri menjadi pengguna terbesar dengan porsi 43 persen, disusul transportasi 38 persen, rumah tangga dan komersial 17 persen, serta lain-lain 1 persen.