Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah hingga tahun depan.

Suku bunga lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Permintaan Emas di India dan China Lesu

Harga emas spot telah turun lebih dari 2% bulan ini. Permintaan emas di India masih lesu akibat harga yang lebih tinggi dan bea impor.

>>> Dolar Melejit, Ini 5 HP Paling Worth It 2026 yang Banyak Dicari Mulai Rp1 Jutaan

Sementara itu, premi di pasar utama China menyempit dengan sentimen hati-hati dari konsumen.

Sebelumnya, harga emas global sedikit pulih pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026.

Tekanan terjadi setelah rilis data inflasi AS, namun harga masih melemah selama tiga sesi berturut-turut karena skeptisisme seputar kesepakatan AS-Iran.

Pada Jumat (29/5/2026), harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.428,69 per ounce setelah jatuh ke titik terendah sejak akhir Maret.

Kontrak berjangka emas AS juga turun 0,5% menjadi US$ 4.426,20.

Harga perak spot melemah 1,2% menjadi US$ 73,69 per ounce, platinum turun 1,6% menjadi US$ 1.887,75, dan palladium jatuh 3,1% menjadi US$ 1.347,31.

Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy TD Securities, menyatakan data inflasi memberikan sedikit kelonggaran bagi emas.

The Fed mungkin lebih memilih mempertahankan suku bunga saat ini daripada menetapkan kebijakan yang lebih ketat.

Melek menambahkan emas masih bisa mengalami tren penurunan signifikan.

Bahkan jika perang berhenti, harga energi bisa tetap tinggi karena rapat Fed 28-29 April menunjukkan banyak pejabat terbuka untuk kemungkinan menaikkan suku bunga.

Tantangan bagi Emas

Dalam ketidakstabilan geopolitik, emas memiliki daya tarik sebagai aset aman.

Namun, kinerjanya buruk ketika suku bunga naik, karena investor beralih ke aset yang menghasilkan imbal hasil lebih baik.

Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index, mengatakan isu geopolitik tidak beroperasi secara terisolasi.

Kenaikan harga energi menyebabkan kekhawatiran inflasi, menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah, dan menguatkan dolar pada saat bersamaan.

Dalam hal geopolitik, Iran menargetkan pangkalan udara AS setelah serangan Amerika Serikat pada operasi drone Iran di dekat Selat Hormuz.

>>> Skandal Riset Palsu WNI di Forum Internasional Guncang Akademik

Presiden Donald Trump menolak kesepakatan kompromi yang dilaporkan dengan Teheran.