Masa Depan AI dalam Pandangan Hegel hingga Habermas, Ini Analisis Terbarunya (Bag II)
Dimitri Mahayana, pakar ICT dari STEI ITB, melanjutkan analisisnya tentang kecerdasan buatan (AI) dalam bagian kedua ulasannya.
Kali ini, ia menggunakan kerangka pemikiran Michel Foucault untuk membedah fenomena AI.
>>> Rahasia China Kuasai Ekspor Furnitur Dunia: Ekosistem Terintegrasi
Foucault memandang sejarah bukan sebagai progres kebebasan, melainkan arena kekuasaan yang bersembunyi di balik klaim kebenaran.
Menurutnya, tidak ada kebenaran yang netral karena setiap rezim kebenaran merupakan hasil relasi kuasa.
Kuasa-Pengetahuan dalam AI
Salah satu fondasi pemikiran Foucault adalah nexus kuasa-pengetahuan (pouvoir-savoir). Kekuasaan dan pengetahuan tidak bisa dipisahkan.
Sains dan teknologi bukan aktivitas bebas nilai, melainkan sarana kekuasaan untuk beroperasi dan mendominasi.
Dalam konteks AI, muncul pertanyaan kritis: siapa yang berwenang mendefinisikan benar atau salah dalam model bahasa besar yang digunakan miliaran manusia?
Foucault dalam Power/Knowledge (1980) menyatakan, "Kebenaran adalah bagian dari dunia ini; ia diproduksi hanya berkat berbagai bentuk paksaan.
Dan ia menginduksi efek kekuasaan yang teratur."
Informasi dari teknologi bukan data mentah objektif, melainkan hasil konstruksi sistematis yang dipengaruhi pihak yang mengendalikan infrastruktur global.
Digital Panopticon dan Kapitalisme Pengawasan
Foucault menggunakan konsep Panopticon sebagai metafora masyarakat modern yang disiplin.
Di era digital, fenomena ini bertransformasi menjadi kapitalisme pengawasan, di mana data perilaku manusia dikumpulkan sebagai komoditas ekonomi.
Ancaman utamanya bukan pencurian data, melainkan rezim kebenaran baru yang dikelola algoritma korporasi besar.
>>> Aturan Baru PPh Final UMKM 0,5% Berlaku 2026, Ini Daftar Wajib Pajak yang Berhak Membayar
Dampak nyata terlihat pada penentuan skor kredit, sistem rekrutmen kerja, dan personalisasi konten yang menciptakan ruang gema.
Masalah ini lebih dalam dari sekadar bias teknis. Ini soal siapa yang memiliki hak istimewa untuk mendefinisikan dan kepentingan apa yang diperjuangkan.
Update Terbaru
PSG Kalahkan Arsenal di Final Liga Champions 2026 Lewat Adu Penalti
Minggu / 31-05-2026, 11:43 WIB
Lanjutkan Turing ke Eropa, Pria Ini Geber Yamaha XMax 11 Ribu Km dari Makkah
Minggu / 31-05-2026, 11:43 WIB
Konser F*FOREVER Jakarta: Fans Nostalgia Meteor Garden
Minggu / 31-05-2026, 11:38 WIB
Logo Gerindra Muncul di Poster BYD, Ini Klarifikasinya
Minggu / 31-05-2026, 11:38 WIB
Arsenal Pecahkan Rekor 226 Laga Tanpa Trofi Liga Champions
Minggu / 31-05-2026, 11:35 WIB
Pegadaian Buka Pendaftaran Beasiswa Wirausaha Muda 2026, Tanpa Biaya
Minggu / 31-05-2026, 11:35 WIB
Bioskop Surabaya Tayangkan Film Baru 31 Mei 2026, Harga Tiket Mulai Rp25.000
Minggu / 31-05-2026, 11:33 WIB
3 Peristiwa Suci Waisak 2026 yang Paling Dicari dan Maknanya bagi Umat Buddha
Minggu / 31-05-2026, 11:33 WIB
Revitalisasi Situ Asih Pulo Depok Rp 36,9 Miliar Picu Banjir Permukiman
Minggu / 31-05-2026, 11:28 WIB
PPDB TK-SMP Kota Depok 2026 Dibuka Besok, Simak Jadwal Resmi dan Cara Daftarnya
Minggu / 31-05-2026, 11:28 WIB
Aidan Heslop dan Jonathan Paredes Mengguncang Red Bull Cliff Diving Bali 2026
Minggu / 31-05-2026, 11:23 WIB
Xiaomi 17T dan 17T Pro Resmi Meluncur, Bawa Baterai 7000mAh dan Kamera Periskop
Minggu / 31-05-2026, 11:23 WIB
Veda Ega Pratama Rebut Posisi Start ke-13 Moto3 Italia
Minggu / 31-05-2026, 11:18 WIB
Cara Cek Legalitas Lembaga Kurban Terbaru 2026 agar Aman dan Tak Tertipu
Minggu / 31-05-2026, 11:18 WIB






