Dominasi Narasi dan Kekerasan Epistemik

Foucault menganalisis bagaimana kekuasaan mengontrol narasi sejarah dan menentukan siapa yang berhak berbicara. Dalam AI, model bahasa besar dilatih dengan data berbahasa Inggris yang mengikuti standar Barat.

Akibatnya, perspektif media arus utama dominan, sementara suara kelompok marginal hilang. Mekanisme ini disebut produksi ketidakhadiran, di mana kekuasaan memastikan suara tertentu tidak pernah ada dalam wacana resmi.

Ketika sistem AI mengoreksi kesaksian penyintas genosida berdasarkan "fakta" dominan, terjadi kekerasan epistemik.

Bahaya terbesar AI bukanlah kebohongan, melainkan ketika ia memantulkan tatanan dunia yang tidak adil seolah-olah kebenaran mutlak.

Oligopoli Epistemik

Dalam analisis genealogisnya, Foucault mempertanyakan siapa yang diuntungkan dari sebuah sistem. Jawabannya dalam pengembangan AI cukup suram.

Tiga pilar utama dibutuhkan untuk mengembangkan model AI tingkat dunia: modal finansial, data masif, dan talenta ahli. Hanya segelintir korporasi raksasa yang memiliki sumber daya tersebut.

Konsentrasi ini menciptakan oligopoli epistemik, di mana sedikit entitas mengontrol pengetahuan global.

Sistem ini bersifat self-reinforcing: semakin banyak pengguna, semakin banyak data, semakin kuat model, dan mustahil bagi pesaing baru untuk menandingi.

>>> Harga Minyak Dunia Anjlok ke US$92 Usai Hubungan AS-Iran Membaik, Ini Update Terbaru 2026

Fenomena ini mencerminkan logika akumulasi kapital paling murni. Kapitalisme kini tidak hanya menguasai sumber daya fisik, tetapi juga mengkolonisasi ranah produksi pengetahuan melalui mesin cerdas.