Harga Minyak Dunia Anjlok ke US$92 Usai Hubungan AS-Iran Membaik, Ini Update Terbaru 2026
Kesepakatan ini juga mencakup rencana pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Meski begitu, keputusan final masih menunggu persetujuan resmi dari Presiden AS, Donald Trump.
Selat Hormuz menjadi fokus utama dunia karena merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah global.
>>> Harga Emas Antam Terbaru Melonjak Tajam ke Rp2,774 Juta, Banyak Dicari Investor 2026
Selain itu, kawasan ini juga menjadi rute utama bagi pengiriman gas alam cair (LNG) ke berbagai negara.
Selama konflik berkecamuk, lalu lintas kapal di jalur tersebut menyusut drastis dan memicu kenaikan premi risiko.
Kini, saat peluang damai terbuka, premi perang tersebut perlahan mulai menghilang dari struktur harga minyak.
Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan pernyataan optimis bahwa Washington dan Teheran sudah semakin dekat untuk mencapai kesepakatan.
Walaupun demikian, ia mengakui masih ada beberapa isu teknis yang perlu diselesaikan.
Beberapa poin yang masih menjadi ganjalan dalam negosiasi tersebut berkaitan dengan stok uranium milik Iran.
Selain itu, masalah program pengayaan nuklir Iran juga tetap menjadi fokus dalam pembahasan kedua belah pihak.
Adapun poin-poin utama yang memengaruhi dinamika pasar saat ini antara lain:
- Proyeksi berakhirnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk.
- Rencana pembukaan kembali akses navigasi penuh di Selat Hormuz untuk kapal tanker global.
- Penyusutan premi risiko geopolitik yang sebelumnya membuat harga minyak melonjak tajam.
- Kekhawatiran pasar yang mulai beralih dari isu pasokan ke arah stabilisasi ekonomi.
Poin-poin di atas menjadi alasan utama mengapa harga minyak mentah mengalami koreksi yang sangat dalam.
Hilangnya kekhawatiran akan gangguan pasokan membuat investor mulai melepas posisi mereka pada aset komoditas energi.
Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, ayunan harga harian tercatat sangat ekstrem hingga mencapai US$6 per barel.
Kondisi ini dipicu oleh tarik ulur informasi mengenai kepastian berakhirnya konflik di Timur Tengah.
Data Refinitiv menunjukkan bahwa pada pertengahan Mei, harga Brent masih sempat berfluktuasi di rentang US$102 hingga US$112 per barel.
>>> Pemerintah Resmi Pangkas Bea Masuk LPG dan Plastik Jadi 0 Persen Mulai 2026
Namun, tren penurunan mulai tidak terbendung sejak tanggal 25 Mei hingga hari ini.
Update Terbaru
Drama 'Reborn Rookie' Sukses karena Formula Pahlawan dan Pesan Keluarga
Kamis / 16-07-2026, 15:21 WIB
Prabowo Akui Berutang ke Masyarakat Maluku, Ini Penyebabnya
Kamis / 16-07-2026, 15:21 WIB
Inggris Digilas Argentina, Tuchel Diisukan Akan Diganti Guardiola
Kamis / 16-07-2026, 15:21 WIB
Kuota Cardio Dance Habis, Masih Ada Hyrox dan Pilates di Wellnest Fest
Kamis / 16-07-2026, 15:21 WIB
Ternak Rekening: Pelaku Judol Imingi Rp100 Ribu ke Petani Hingga IRT
Kamis / 16-07-2026, 15:21 WIB
5 Tips Memilih Jam Tangan Pintar Sesuai Kebutuhan Sebelum Membeli
Kamis / 16-07-2026, 15:21 WIB
Google Makin Jauh dari Samsung untuk Hardware Pixel
Kamis / 16-07-2026, 15:21 WIB
Galaxy Tab S12 Ultra Dipastikan Tak Punya Kamera Selfie Punch-Hole
Kamis / 16-07-2026, 15:16 WIB
Mayapada Hospital Kuningan Luncurkan Layanan Khusus untuk Ekspatriat
Kamis / 16-07-2026, 15:16 WIB
Nyeri Dada hingga Punggung Tiba-tiba? Waspada Aorta Jantung Robek
Kamis / 16-07-2026, 15:16 WIB
Alasan Avatar Aang: The Last Airbender Tayang Terbatas di Bioskop
Kamis / 16-07-2026, 15:15 WIB
ViewSonic Luncurkan ViewBoard IN04V-N Series dengan Kamera 48MP dan AI di India
Kamis / 16-07-2026, 15:15 WIB
BGMI 4.5 Update Anniversary Edition Resmi Dirilis, Hadirkan Kolaborasi Naruto, Spider-Man, dan Ferrari
Kamis / 16-07-2026, 15:14 WIB
Mikroplastik Tembus Lautan Dalam, Keseimbangan Ekosistem Laut Terganggu
Kamis / 16-07-2026, 15:14 WIB







