Keselamatan berkendara tidak hanya bergantung pada keterampilan mengemudi. Penerapan metode defensive driving juga menjadi faktor krusial bagi setiap pengendara.

Dinamika lalu lintas yang tinggi menuntut pengemudi untuk selalu waspada. Pengendara harus mampu memprediksi potensi bahaya dan mengambil keputusan tepat demi meminimalkan risiko kecelakaan.

>>> Aprilia Racing Resmi Gandeng Monster Energy sebagai Sponsor Utama MotoGP

Defensive driving adalah metode berkendara yang mengutamakan sikap proaktif, bukan reaktif. Pendekatan ini melatih pengemudi untuk lebih antisipatif terhadap situasi di sekitar kendaraan.

Asst. to Aftersales Department Head of Service PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Hariadi, menilai pendekatan tersebut sangat membantu.

Pengemudi dapat mengambil keputusan secara tepat dalam berbagai kondisi lalu lintas.

"Potensi risiko perjalanan selalu ada, termasuk saat lalu lintas meningkat.

Agar semua pengguna jalan bisa meminimalisasi potensi tersebut, akan lebih baik jika kita menerapkan defensive driving," ujar Hariadi.

Hariadi membagikan beberapa panduan sederhana untuk menerapkan defensive driving. Langkah pertama adalah memastikan mobil siap jalan sebelum berkendara.

Pengemudi wajib memeriksa kondisi ban, rem, lampu, wiper, serta cairan kendaraan sebelum memulai perjalanan jauh. Saat berkendara, pengemudi harus selalu menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan.

Penggunaan lajur juga harus dilakukan dengan benar. Pengemudi dilarang berpindah lajur secara mendadak dan wajib menyalakan lampu sein sebelum berpindah jalur.

Kondisi sekitar kendaraan harus dipantau secara berkala melalui kaca spion. Hal ini penting agar pengemudi lebih siap menghadapi pergerakan kendaraan lain.

Pengemudi juga dituntut untuk mengatur kecepatan dan emosi. Mengikuti batas kecepatan, tetap tenang, dan menghindari perilaku agresif menjadi kunci keselamatan.

>>> Mobil Listrik Pertama Ferrari Menuai Kritik Pasca Peluncuran