Indonesia berada di persimpangan penting dalam transformasi ekonomi nasional.

Pertanyaannya, apakah perubahan yang terjadi mampu mengoreksi ketimpangan lama atau hanya menghadirkan aktor baru dalam tatanan yang sama?

>>> Garena Hadirkan Kembali Bundle Legendary Eclipse Free Fire dengan Desain Futuristik

Pembahasan mengenai negara, Danantara, konglomerasi swasta, koperasi, dan UMKM tidak bisa dilepaskan dari trikotomi struktur ekonomi yang berulang sejak era prakolonial.

Pola ini disebut sebagai kelembaman historis-struktural.

Kelembaman historis-struktural adalah kecenderungan struktur ekonomi mereproduksi ketimpangan dan jalur ketergantungan struktural meskipun tampil dalam bentuk berbeda. Pola ini terlihat sejak era kerajaan prakolonial.

Saat itu, trikotomi terdiri dari raja-raja besar sebagai pusat kekuasaan ekonomi, raja-raja kecil sebagai penguasa teritorial, dan rakyat jelata sebagai basis produksi.

Memasuki era kolonial Belanda, struktur ini direkonstruksi secara sistematis.

Penguasa kolonial menggantikan raja-raja besar sebagai pusat kekuatan politik dan ekonomi. Elite ekonomi Timur Asing mendominasi distribusi perdagangan dan perantara ekonomi.

Rakyat jelata tetap di lapisan terbawah sebagai inlander.

Pascakemerdekaan, struktur trikotomi belum berubah secara fundamental. Pemerintah menggantikan kolonial sebagai pusat pengendali ekonomi dengan BUMN dan Danantara.

Konglomerasi swasta menggantikan elite Timur Asing.

Koperasi dan UMKM kini menjadi representasi rakyat kecil, namun masih menghadapi keterbatasan akses pembiayaan, teknologi, dan daya tawar.

Pola trikotomi belum melebur, hanya aktor dan institusinya yang berubah.

Memutus Lingkaran Setan

Salah satu penyebab utama kelembaman adalah terkonsentrasinya penguasaan sumber daya ekonomi secara lintas generasi. Akses terhadap kapital, teknologi, dan kebijakan tidak terdistribusi seimbang.

>>> Rupiah Melemah ke Rp17.855 per Dolar AS Akibat Tekanan Ekonomi Global

Kondisi ini dianalogikan seperti inersia dalam fisika. Struktur trikotomi bertahan karena adanya friksi seperti oligarki, patronase, korupsi, dan lemahnya tata kelola.