Ia menilai anak-anak perlu menjadi fokus utama pendidikan perubahan iklim karena merekalah yang akan menentukan arah masa depan.

"Anak-anak akan menjadi penentu kebijakan, arah, dan masa depan keluarga di desa, kecamatan, dan negara," ujarnya.

Anak Disabilitas Juga Terlibat

Senior Specialist Perlindungan Anak dan Advokasi ChildFund, Reny Rebeka Haning, menilai anak-anak adalah kelompok yang paling merasakan dampak perubahan iklim.

Di NTT, perubahan cuaca memengaruhi hasil tangkapan nelayan sehingga kondisi ekonomi keluarga terganggu.

>>> KTM Solutions Tekankan Keseimbangan Bisnis dan Talenta di Manager Fest 2026

Dalam situasi tertentu, tekanan ekonomi dapat berdampak pada pola pengasuhan hingga memicu kekerasan terhadap anak.

Cuaca panas ekstrem juga sempat menyebabkan sekolah diliburkan, sehingga hak belajar anak ikut terdampak.

Reny menambahkan, anak-anak penyandang disabilitas menghadapi kerentanan berlapis dalam situasi krisis iklim.

Saat dilibatkan dalam uji coba board game di Sekolah Luar Biasa (SLB), mereka justru mampu menjelaskan pengalaman terkait dampak perubahan iklim dengan sangat jelas.

"Anak-anak disabilitas punya kerentanan ganda.

Ketika mereka dilibatkan, mereka bisa menceritakan apa yang mereka rasakan, dan itu penting dimasukkan dalam literasi perubahan iklim," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar hasil riset tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi perlu panduan praktis dan pelatihan guru agar metode ini bisa diterapkan di sekolah, termasuk untuk anak disabilitas.

Perspektif Australia

Kepala Sekolah Dasar Harkaway, Victoria, Leigh Johnson, mengungkapkan tantangan yang dihadapi siswa di Australia ternyata tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

"Yang paling penting, para siswa memahami bahwa mereka tidak sendirian menghadapi persoalan ini," ujar Leigh melalui video conference.

Dukungan Pemerintah dan DPR