Industri Finansial Digital Didorong Perkuat Keamanan Siber Berbasis AI
Risiko kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai semakin meningkat seiring pertumbuhan transaksi digital di Indonesia.
Pelaku industri jasa keuangan kini didorong untuk memperkuat sistem perlindungan serta ketahanan keamanan pembayaran digital.
>>> 6 Momen Paling Emosional di Arc Elbaf One Piece Pilihan Nakama
Transaksi Digital Melonjak
Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital pada kuartal I-2026 mencapai 14,82 miliar transaksi.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 37,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini didorong oleh peningkatan penggunaan layanan keuangan digital oleh masyarakat.
Namun, tantangan baru muncul karena risiko kejahatan siber juga menjadi semakin kompleks.
Ancaman Siber Meningkat
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendeteksi 5,2 miliar trafik internet sepanjang 2025 yang berpotensi menjadi jalur serangan siber.
Dari total tersebut, sebanyak 94% merupakan malware yang berisiko berkembang menjadi serangan ransomware.
>>> Jung Woo Sung dan Wi Ha Joon Bintangi Film Sejarah Sal Saeng Bu
Para pelaku kejahatan digital kini dilaporkan mulai menggunakan teknologi AI untuk melancarkan aksi yang lebih canggih dan sulit dideteksi.
Menanggapi situasi ini, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama PT Jalin Pembayaran Nusantara dengan dukungan BPC mengadakan diskusi bertajuk "Protection in Action: Strengthening Fraud Resilience Across Ecosystem" di Jakarta.
Forum ini mempertemukan pihak regulator, pelaku industri, dan mitra strategis untuk mendiskusikan penguatan ketahanan sistem pembayaran digital nasional.
Pentingnya Ketahanan Sistem
Wakil Ketua Umum II AFTECH, Budi Gandasoebrata menyampaikan bahwa industri keuangan digital saat ini tidak hanya dituntut untuk tumbuh cepat, melainkan juga harus mempunyai ketahanan yang kokoh terhadap ancaman siber.
Menurutnya, aspek keamanan, ketahanan infrastruktur, dan manajemen risiko menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem pembayaran digital yang sehat sekaligus berkelanjutan.
"Industri tidak lagi hanya dituntut untuk tumbuh cepat tetapi juga harus tumbuh resilient.
>>> Jennifer Coppen Siapkan Pernikahan Dua Hari Bersama Justin Hubner
Dan dalam konteks tersebut, Fraud Detection System atau FDS saat ini bukan lagi sekadar fitur pendukung, melainkan infrastruktur krusial bagi industri keuangan digital," ujarnya.
Update Terbaru
Model AI China Zhipu Gagalkan Serangan Agen Otonom OpenAI
Jumat / 24-07-2026, 08:43 WIB
Kenapa Perempuan Lebih Rentan Autoimun? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Jumat / 24-07-2026, 08:42 WIB
Oiwa Go Resmi Jadi Pelatih Baru Timnas Jepang
Jumat / 24-07-2026, 08:42 WIB
Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Indonesia Waspadai Dampaknya
Jumat / 24-07-2026, 08:39 WIB
5 Fakta Jelang Duel Jonatan vs Victor Lai di China Open
Jumat / 24-07-2026, 08:39 WIB
Samsung Galaxy Watch Ultra2 vs Galaxy Watch9: Mana Smartwatch AI Paling Layak?
Jumat / 24-07-2026, 08:39 WIB
Purbaya Buka-bukaan soal Usul Universal Banking OJK: Belum Disepakati
Jumat / 24-07-2026, 08:36 WIB
DPR Akan Bahas Isu LGBTQ dalam RUU Sisdiknas, Tak Hanya Kurikulum
Jumat / 24-07-2026, 08:36 WIB
Cara Skrining Kesehatan di BPJS Kesehatan Lewat Aplikasi Mobile JKN
Jumat / 24-07-2026, 08:36 WIB
Trump: Semua Kerusakan Kapal di Hormuz Bakal Diganti Pakai Uang Iran
Jumat / 24-07-2026, 08:36 WIB
Angelelli Automobili Ciptakan Porsche 911 Bertenaga 800 HP dengan Konfigurasi Mesin Tengah
Jumat / 24-07-2026, 08:36 WIB
Prabowonomics: Konsep Ekonomi Prabowo Subianto untuk Kemandirian dan Pertumbuhan 8 Persen
Jumat / 24-07-2026, 08:36 WIB
Sopir Alphard Terobos Bundaran HI Pamer KTA saat Mediasi dengan Satpam
Jumat / 24-07-2026, 08:35 WIB
Daftar Fitur Baru WhatsApp Juli 2026: Registrasi iPad hingga Bagikan Lagu ke Status
Jumat / 24-07-2026, 08:35 WIB







