Perayaan Iduladha tahun ini bergulir di bawah tekanan krisis pangan global yang semakin kuat.

Kenaikan harga kebutuhan pokok, disrupsi rantai pasok, dan perubahan iklim membuat ketahanan pangan menjadi isu krusial.

>>> Sutradara Daniel Fahre Rilis Film Perang Norwegia The Battle of Oslo

Indonesia termasuk negara yang merasakan dampak dari situasi ini.

Ibadah kurban tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dalam menjaga stabilitas pangan.

Penasihat DPP Persatuan Umat Islam, Prof Achmad Tjachja Nugraha, menyampaikan bahwa Iduladha membawa pesan keadilan dan pemerataan distribusi pangan.

Ia mengutip QS. Al-Hasyr ayat 7 yang menegaskan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya.

“Esensi kurban bukan hanya pada fisiknya, tetapi pada ketakwaan. Implementasinya berupa kepedulian dan distribusi yang tepat,” ujarnya di Bandung, Selasa (26/5).

Kurban menjadi bentuk nyata sistem distribusi pangan berbasis umat yang bergerak serentak.

Pola ini langsung menyentuh lapisan masyarakat yang paling membutuhkan.

“Di tengah krisis pangan global, kurban menunjukkan mekanisme berbagi bagi kelompok rentan,” kata Prof Achmad Tjachja Nugraha.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan bahwa jutaan paket daging kurban tersalurkan dalam waktu singkat.

Jaringan masjid, pesantren, dan komunitas lokal menjadi tulang punggung logistik distribusi.

Sistem ini dipandang sebagai kekuatan sosial mandiri yang jarang ditemukan dalam mekanisme formal.

“Distribusi berjalan cepat, tanpa birokrasi panjang, dan relatif tepat sasaran. Ini kekuatan sosial umat yang luar biasa,” tuturnya.

>>> Pecinta Hewan Dinilai Lebih Siap Jalani Komitmen Jangka Panjang

Nilai luhur kurban berkaitan erat dengan prinsip keadilan sosial dalam Islam.

Perayaan Iduladha disebut sebagai Ishlah Tsamaniyah yang membawa dampak positif nyata.