Pemerintah Indonesia resmi meluncurkan insentif pajak penghasilan final sebesar 1,5 persen bagi penulis buku yang memiliki International Standard Book Number (ISBN).

Kebijakan ini diumumkan pada Selasa (26/5/2026) sebagai realisasi janji kampanye Presiden Prabowo Subianto.

>>> Kemenkeu Ungkap Dugaan Manipulasi Ekspor CPO oleh Sepuluh Perusahaan Besar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa stimulus ekonomi ini menyasar semua penulis dengan identitas penerbitan resmi.

Insentif ini diproyeksikan memberikan potensi penurunan pajak mencapai Rp12,5 miliar hingga Rp31,2 miliar.

Jumlah penulis yang diperkirakan menerima manfaat berkisar antara 16.600 hingga 41.500 orang.

"Tadi kita sudah putuskan untuk memberikan insentif pajak untuk penulis diberikan PPh final sebesar 1,5 persen.

Karena ini merupakan janji kampanye Bapak Presiden, maka ini akan segera dilaksanakan," kata Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.

Fasilitas Tambahan bagi Penulis Pemula

Selain PPh final, pemerintah juga menyediakan fasilitas pembebasan pajak royalti yang sebelumnya dikenakan tarif 5 hingga 35 persen.

Fasilitas ini berlaku untuk maksimal dua karya yang diterbitkan dalam jangka waktu tiga tahun.

Kebijakan tersebut diatur melalui Peraturan Pemerintah yang melibatkan Kementerian Ekonomi Kreatif.

>>> 25 Ucapan Selamat Iduladha 2026 Menyentuh Hati dan Penuh Doa

Menteri Keuangan Purbaya menjelaskan bahwa latar belakang kebijakan ini adalah masih minimnya jumlah penulis di Indonesia, terutama di bidang karya ilmiah.

"Jadi ini mendorong supaya orang-orang yang punya kemampuan keahlian mau nulis buku sehingga orang kita makin banyak yang lebih pintar," ujar Purbaya.

Dampak Jangka Panjang bagi Literasi

Purbaya memproyeksikan insentif ini akan memicu lahirnya lebih banyak karya literasi berbahasa Indonesia, baik fiksi maupun nonfiksi seperti tema ekonomi dan ilmiah.

Hal ini diharapkan memperluas wawasan masyarakat secara lebih terbuka.

"Itu mencerdaskan kehidupan bangsa. Orang banyak nulis Bahasa Indonesia dan yang baca makin banyak juga.

Jadi kita lebih terbuka lebih melek.

Mungkin bukan buku-buku cerita saja, buku ilmiah, buku ekonomi yang bagus sehingga pandangan Anda enggak dikuasai oleh ekonom TikTok," seloroh Purbaya.

>>> Visinema Pictures Rilis Film Nobody Loves Kay Juni Mendatang

Perhitungan teknis besaran insentif dikerjakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif. Purbaya menegaskan peran kementeriannya berfokus memastikan regulasi tersebut efektif meringankan beban pajak para penulis.