CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) justru menjadi peluang besar bagi generasi muda untuk memulai karier.

Pernyataan optimistis itu disampaikan dalam pidato wisuda di Carnegie Mellon University pekan lalu.

>>> Anji Menikahi Dena Desy untuk Penuhi Wasiat Terakhir Ibunda

"Sekarang adalah waktunya bagi Anda untuk mewujudkan impian Anda, dan momentumnya tidak mungkin lebih sempurna dari ini," ujar Huang.

Menurut Huang, AI berfungsi sebagai jembatan yang menutup kesenjangan teknologi bagi semua orang. Kemudahan akses ini diprediksi akan membuka banyak kesempatan baru dalam beberapa tahun ke depan.

Pandangan Huang bertolak belakang dengan realitas industri saat ini.

Data Pew Research Center menunjukkan separuh warga AS merasa lebih khawatir terhadap maraknya AI, yang memicu lonjakan angka pengangguran lulusan baru hingga rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir pada awal 2026.

Kecemasan terhadap hilangnya lapangan kerja juga disuarakan sejumlah petinggi teknologi.

CEO Anthropic Dario Amodei memprediksi AI dapat memusnahkan setengah pekerjaan tingkat pemula pekerja kerah putih, sementara Elon Musk mengeklaim adanya risiko pemusnahan umat manusia.

Huang secara terbuka mengkritik pernyataan para pemimpin perusahaan teknologi tersebut. Kritik keras itu disampaikan dalam podcast Memos to the President awal bulan ini.

>>> BTS Raih Artist of the Year di AMAs 2026 Usai Wajib Militer

"Komentar-komentar semacam itu (prediksi kiamat AI) sama sekali tidak membantu," tegas Huang.

Ia menilai para pemimpin perusahaan seharusnya bersikap lebih rendah hati dan tidak merasa mengetahui segala hal. Huang meminta para CEO lebih bijak dalam mengeluarkan pernyataan ke publik.

"Entah bagaimana, karena mereka menjadi CEO, Anda lantas mengadopsi God complex dan, sebelum Anda menyadarinya, Anda merasa tahu segalanya," tambah Huang.

Huang mengingatkan pentingnya berbicara berdasarkan data demi menenangkan situasi masyarakat. Pemimpin perusahaan teknologi diharapkan memberikan pandangan yang lebih membumi.

"Saya pikir kita harus lebih berhati-hati dan benar-benar membumikan diri kita untuk hanya berbicara berdasarkan fakta," tambah Huang.

Kepada para lulusan baru, Huang menekankan bahwa ancaman nyata bukan berasal dari teknologi AI itu sendiri. Tantangan terbesar datang dari persaingan antarlabor yang memanfaatkan teknologi tersebut.

>>> Dua Buah dalam Al-Qur'an yang Bantu Turunkan Kolesterol dan Jaga Jantung

"AI kemungkinan besar tidak akan menggantikan pekerjaan Anda. Tetapi seseorang yang menggunakan AI lebih baik dari Anda, bisa jadi akan menggantikan Anda," pungkas Huang.