>>> Kurma Lebih Sehat dari Gula Pasir? Ini Penjelasan Ahli Gizi

"Saya tidak ingin ada masyarakat Majalengka yang kelaparan, rumahnya tidak layak, atau anak-anak yang kekurangan makan. Di sinilah BAZNAS menjadi kekuatan percepatan ketika APBD memiliki keterbatasan," ujar Eman.

Potensi penerimaan berkala dari sektor aparatur sipil negara diproyeksikan dapat meningkat berkali-kali lipat jika kepatuhan pengumpulan dana dapat dimaksimalkan secara menyeluruh.

Pemerintah daerah berkomitmen mendorong perluasan target sasaran kepatuhan tersebut.

"Kalau nanti bisa 100 persen, potensinya bisa mencapai Rp3 miliar setiap bulan," kata Eman.

Model Ideal untuk Daerah Lain

Pimpinan BAZNAS RI Bidang Koordinasi Nasional, Hj. Saidah Sakwan, mengapresiasi pola integrasi yang diterapkan di wilayah penyelenggaraan forum.

Sinergi lintas sektor dianggap sebagai model ideal yang patut direplikasi oleh wilayah lain.

"Ketika ekosistem daerah kuat, maka ekosistem zakat dan kemakmuran masyarakat juga akan meningkat. Apa yang dilakukan Majalengka ini bisa menjadi benchmark nasional," ujar Saidah.

Deputi II BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Dr. H. Muhammad Imdadun Rahmat, memberikan perspektif mengenai arah pemanfaatan dana.

Penyaluran dana kini didorong agar fokus pada sektor produktif untuk memberikan dampak jangka panjang bagi penerima manfaat.

"Transformasi dari bantuan karitatif menuju pemberdayaan ekonomi menjadi kunci penting dalam penguatan ekosistem zakat. Dengan begitu manfaat zakat bisa dirasakan lebih luas dan berkelanjutan," kata Muhammad Imdadun Rahmat.

Forum berskala nasional ini juga mengompilasi rekam jejak keberhasilan pemanfaatan skema unit pengumpul zakat dari daerah lain.

>>> Cara Menyembunyikan Status Online di WhatsApp Android dan iPhone

Perwakilan BAZNAS Kabupaten Ciamis dan BAZNAS Kabupaten Tasikmalaya turut memaparkan lonjakan capaian realisasi penghimpunan dan kemitraan gizi di wilayah masing-masing.