Salah satu diskusi mengenai dampak AI terhadap anak-anak digelar di Kedutaan Besar Prancis untuk Vatikan pada April lalu.

Co-founder Anthropic, Christopher Olah, turut menghadiri peluncuran ensiklik. Ia menyampaikan apresiasi kepada Paus yang berani menyuarakan risiko AI secara terbuka.

"Setiap laboratorium frontier AI, termasuk Anthropic, beroperasi di bawah tekanan dan insentif bisnis yang terkadang bisa bertentangan dengan melakukan hal yang benar," kata Olah.

Ia menambahkan bahwa kekhawatiran Paus sangat beralasan mengingat potensi AI menggantikan tenaga kerja manusia. "Ada kemungkinan nyata bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia dalam skala sangat besar," ujarnya.

Olah mendukung keterlibatan komunitas agama, akademisi, masyarakat sipil, hingga pemerintah. "Kita membutuhkan suara-suara moral yang tidak bisa dibelokkan oleh kepentingan dan insentif bisnis," lanjut dia.

Kritik Atas Monopoli dan Perlombaan AI

Selain regulasi, Paus Leo XIV mengkritik konsentrasi kekuasaan AI yang hanya dikuasai segelintir perusahaan swasta besar.

Ia mendesak pemerintah mengambil peran lebih dominan demi melindungi kelompok rentan dan anak-anak.

Paus kelahiran 14 September 1955 ini juga memperingatkan dampak perlombaan AI terhadap potensi konflik global. Menurutnya, laju perkembangan teknologi perlu diperlambat agar manusia memahami dampak moral dan sosialnya.

"Apa yang dibutuhkan adalah keterlibatan politik yang lebih aktif, yang mampu memperlambat segala sesuatu ketika semuanya bergerak terlalu cepat," tulis Paus Leo XIV.

Ensiklik Magnifica Humanitas yang memiliki panjang hampir 43.000 kata ini diprediksi menjadi referensi global penting.

>>> Arab Saudi Andalkan AI dan Drone Antisipasi Kekacauan Ibadah Haji

Dokumen ini disandingkan dengan ensiklik Rerum Novarum tahun 1891 yang menjadi fondasi ajaran sosial Gereja di era Revolusi Industri.