>>> 10 Kejutan Terbesar Sepanjang Sejarah Piala Dunia

Pengambilan gambar dilakukan berulang kali dengan menggunakan objek nyata.

"Pada akhirnya, kami menggunakan ikan asli. Tapi kasihan Margot.

Maksud saya, dia harus melakukan adegan itu berulang kali dengan 12 ikan berbeda," tambahnya.

Adaptasi Berdasarkan Ingatan Pribadi

Fennell, yang bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, mengembangkan naskah film berdasarkan ingatannya saat membaca novel karya Emily Brontë pada usia remaja.

Proses adaptasi ini memadukan ingatan nyata dan imajinasi masa lalunya.

"Saya rasa hal-hal yang saya ingat dari buku itu ada yang nyata dan ada yang tidak nyata," jelas Fennell.

Ia menggabungkan beberapa karakter utuh yang sempat terlupakan untuk menyesuaikan jalan cerita.

"Jadi ada semacam pemenuhan hasrat di dalamnya, dan ada beberapa karakter utuh yang sempat saya lupakan atau akhirnya saya gabungkan menjadi satu," kata Fennell.

Film ini dirancang sebagai bentuk respons emosional terhadap buku aslinya, bukan adaptasi kata-per-kata yang kaku.

Keterbatasan durasi bioskop diakui menjadi tantangan terbesar yang memaksa pemangkasan banyak bagian cerita.

"Sejujurnya, saya ingin sekali membuat ini menjadi miniseries berdurasi 10 jam agar bisa merangkum seluruh isi buku dengan indah," ungkap Fennell.

Ia menambahkan bahwa format layar lebar menuntut alur cerita bergerak dengan cepat dan padat.

>>> Kebakaran Hanguskan Gudang Dealer BYD BSD Tangerang

"Namun, jika Anda membuat film layar lebar, Anda dituntut untuk bergerak cepat dan padat. Pada akhirnya, keputusan-keputusan sulit seperti itulah yang harus diambil," pungkasnya.