Setiap tahun, sekitar 2 juta warga Indonesia pergi ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan medis. Pemerintah mencatat, fenomena ini menyebabkan Indonesia kehilangan Rp150 triliun per tahun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin blak-blakan soal penyebab banyaknya warga RI lebih memilih berobat di Malaysia dan Singapura.

>>> BMKG Prakirakan Hujan Ringan Mengguyur Bandung Siang Ini

Menurutnya, alasan utamanya bukan hanya soal harga yang murah, tetapi juga kualitas layanan kesehatan.

Kualitas Layanan Jadi Faktor Utama

Budi mencontohkan, Malaysia mampu memberikan kualitas diagnostik, administrasi, hingga hospitality yang jauh lebih baik dari Indonesia. Hal ini belum bisa didapatkan di rumah sakit milik pemerintah.

"Di Malaysia masuk rumah sakit langsung ketemu dokter, di kita mungkin bisa 3-5 jam," kata Menteri Kesehatan, saat berbicara di Health Summit 2025 tahun lalu.

"Kualitas diskusi dengan dokter juga sangat jauh. Di Malaysia mereka bisa dapat 15-30 menit, di rumah sakit Kemenkes mungkin cuma 3 menit," tambahnya.

Pemerintah berambisi mengejar ketertinggalan tersebut dengan membenahi kualitas layanan di seluruh rumah sakit di bawah Kemenkes.

>>> BMKG Prakirakan Kulon Progo Berawan Hari Ini, Suhu Capai 28 Derajat

Dalam 10-15 tahun mendatang, bukan tak mungkin dokter-dokter Indonesia justru akan dicari oleh warga dunia.

Pada 2025 lalu, pemerintah meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, kompleks pariwisata medis terintegrasi pertama di Indonesia.

KEK ini mencakup rumah sakit, klinik spesialis, pusat riset medis, hotel, serta pusat konvensi.

Keberadaan KEK Sanur ditargetkan dapat mengurangi jumlah warga Indonesia yang berobat ke luar negeri. Selain itu, juga menjadi magnet bagi wisatawan medis mancanegara.

>>> BMKG Prakirakan Cuaca Surabaya Hari Ini Sebagian Berawan dan Udara Kurang Sehat

"Dalam 10-15 tahun akan terjadi kebalikan, orang Singapura dan Malaysia bisa ke sini karena hospitality kita bagus," ujar Budi.