"Namun, dari perspektif tata kelola, keputusan ini memiliki beberapa tanda bahaya dan menimbulkan beberapa pertanyaan," lanjut dia.

Nama pengusaha properti Nguyen Hoai Nam menjadi sorotan dalam kesepakatan ini.

Ia baru saja mengambil alih kendali atas perusahaan pembeli yang bersiap menguasai lebih dari 95 persen lini manufaktur VinFast bulan ini.

Nam diketahui menjabat sebagai anggota dewan direksi di Vincom Retail, jaringan pusat perbelanjaan yang sebelumnya bernaung di bawah Vingroup.

Hanya berselang beberapa hari sebelum transaksi dipublikasikan, Nam mengakuisisi Future Investment and Trading Development (FIRD).

Perusahaan FIRD tersebut pada awalnya merupakan aset milik Vingroup dan Vuong.

Entitas ini memegang hak paten untuk kendaraan listrik generasi pertama rilisan VinFast serta mengantongi modal terdaftar sekitar 4,6 miliar dollar AS.

Sebesar 92 persen dari total modal tersebut dilaporkan bersumber langsung dari kantong Nam. "Tidak jelas mengapa FIRD menjadi pembeli utama begitu cepat setelah perubahan kepemilikan ini," ujar Jaouadi.

Ketika dimintai konfirmasi, manajemen VinFast memilih untuk tidak memberikan penjelasan secara mendalam.

"VinFast bukan pihak dalam transaksi ini dan oleh karena itu tidak memiliki dasar atau wewenang untuk berkomentar," tulis perusahaan.

>>> Daihatsu Genjot Produksi di Tengah Koreksi Pasar Otomotif

Skema Rumit dan Dampak terhadap Saham

Mekanisme pelepasan aset ini dinilai kompleks karena mesti melewati sejumlah tahapan perpindahan hak kepemilikan.

Pada fase awal, bisnis manufaktur akan dialihkan kepada Vuong, FIRD, bersama satu perusahaan lain bernama Ngoc Quy Investment and Trading Development.

Ketika transaksi ini dijadwalkan selesai pada September mendatang, hanya FIRD dan Vuong yang dipastikan bertahan sebagai pemilik resmi.

FIRD bakal memegang kendali mayoritas dengan 95,5 persen saham, sementara Vuong mengamankan sisa saham di bawah 5 persen.