Kondisi ini memicu tanda tanya di kalangan analis mengenai urgensi peran Ngoc Quy Investment yang pada akhirnya tidak kebagian porsi saham.

Nama Ngoc Quy sendiri memiliki arti "batu berharga" dalam bahasa Vietnam.

Sejumlah pemegang saham di dalam perusahaan Ngoc Quy disinyalir memiliki jalinan kemitraan bisnis dengan Vuong.

Di sisi lain, Vuong memposisikan dirinya di kedua belah pihak sekaligus dalam transaksi ini, yakni sebagai penjual sekaligus pembeli.

Pasca-transaksi, VinFast dipastikan tetap mempertahankan pabrik perakitan di Indonesia dan India. Perusahaan juga dilaporkan masih memegang penuh hak paten atas lini kendaraan listrik generasi paling mutakhir.

Meski begitu, pelaku pasar tampaknya masih skeptis. Sejak skema restrukturisasi diumumkan pada 12 Mei lalu, harga saham VinFast terpantau mengalami koreksi sekitar 12 persen.

Hingga kini Vingroup masih dikendalikan secara mutlak oleh Vuong dan tercatat belum memiliki banyak investor institusional berskala besar.

Salah satu pemodal asing yang bertahan adalah Dragon Capital, sebuah perusahaan investasi di Ho Chi Minh City.

Dragon Capital memandang positif kebijakan restrukturisasi tersebut karena dinilai efektif dalam menekan pertumbuhan utang sekaligus memangkas pengeluaran operasional.

Penerapan Model Bisnis Ringan Aset

Penerapan skema asset light sebenarnya bukan fenomena baru di industri kendaraan listrik global.

Menurut analis otomotif Felipe Munoz, produsen mobil listrik berskala kecil umumnya bisa bergerak lebih efisien jika fokus pada desain serta perangkat lunak.

Melalui kesepakatan ini, pemilik baru pabrik tersebut nantinya diberikan keleluasaan untuk memproduksi mobil maupun komponen baterai bagi korporasi lain.

Seorang analis keuangan di Vietnam menyebut ada indikasi pabrikan lain tengah bersiap menjajaki kerja sama dengan investor baru itu.

Vingroup sebenarnya pernah membeberkan adanya pendekatan dari Foxconn, raksasa manufaktur asal Taiwan, pada tahun 2021. Foxconn kala itu sempat menyatakan ketertarikannya terhadap jalur perakitan milik VinFast.

Namun, rangkaian negosiasi intensif yang sempat berjalan akhirnya gagal mencapai titik temu.

"Kami tidak memiliki rencana untuk menjual fasilitas manufaktur VinFast di Vietnam kepada Foxconn atau produsen peralatan asli lainnya," kata Vingroup.

>>> Polestar 6 Roadster Hampir Siap, Namun Bukan Prioritas

Hingga saat ini, pihak Foxconn dilaporkan belum memberikan tanggapan resmi mengenai laporan rencana penjualan fasilitas produksi tersebut.