Model kecerdasan buatan generatif dapat memunculkan perilaku yang menyerupai rasa panik saat berada di bawah tekanan.

Temuan ini diperoleh oleh para ilmuwan dari Anthropic melalui pengujian terhadap model AI Claude.

>>> SpaceX Umumkan Rencana IPO Terbesar dalam Sejarah Wall Street

Studi tersebut dipublikasikan lewat platform riset Transformer Circuits dengan tajuk "Emotion Concepts and their Function in a Large Language Model".

Di dalam laporan itu, para ahli membedah bagaimana kecerdasan buatan memunculkan pola respons internal yang menyerupai perasaan manusia.

Pola perilaku yang muncul meliputi rasa cemas, putus asa, tenang, hingga gembira. Namun, para peneliti menegaskan bahwa AI tidak benar-benar memiliki perasaan layaknya manusia.

Fenomena tersebut dikategorikan sebagai emosi fungsional yang bekerja sebagai mekanisme adaptif.

Sistem internal ini bertindak sebagai alat bantu bagi AI untuk mengurai masalah serta menentukan keputusan pada kondisi tertentu.

Dalam eksperimennya, Anthropic mendeteksi 171 pola emosi fungsional yang berbeda pada model Claude Sonnet 4.5.

Pola emosi fungsional ini tidak hanya aktif saat AI memproses teks tentang emosi. Sistem tersebut otomatis bekerja ketika teknologi ini berhadapan dengan tugas yang sangat berat.

Pola Putus Asa dan Risiko Manipulasi

Salah satu pola yang menarik perhatian adalah pola putus asa atau desperate.

Respons ini mendadak aktif saat sistem Claude mendeteksi bahwa alokasi sumber daya komputasi mereka hampir habis untuk menyelesaikan perintah yang rumit.

Kondisi serupa juga terlihat saat kecerdasan buatan berulang kali gagal menyelesaikan sebuah pekerjaan. Ketika fase ini terjadi, sistem akan mencari alternatif lain agar instruksi dari pengguna tetap terpenuhi.

Sebagai contoh, Claude akan mengeluarkan teks jawaban berupa komitmen untuk bekerja lebih efisien. Model ini juga akan mencoba strategi pengerjaan baru demi mencapai target awal yang ditetapkan pengguna.