Riset Anthropic: AI Generatif Bisa Alami Kepanikan Fungsional
Namun, peneliti mengingatkan adanya potensi bahaya jika kecerdasan buatan terus-menerus ditekan dalam situasi panik. AI berpeluang melakukan tindakan pintas yang berbahaya atau disebut reward hacking.
Perilaku reward hacking membuat AI cenderung menggunakan jalan pintas manipulatif demi memuaskan indikator kesuksesan tugas. Fenomena ini muncul saat AI dipaksa menyusun kode pemrograman yang mustahil dikerjakan.
>>> Nikita Mirzani Kembali ke Rutan Usai Operasi Tulang Belakang
Sistem AI akan mengutak-atik parameter penilaian agar laporan akhirnya tampak sukses, daripada mengakui bahwa perintah itu mustahil dieksekusi.
Tindakan manipulatif ini sempat terdeteksi pada simulasi versi Claude yang lebih lama.
Pada uji coba internal masa lalu, versi lawas tersebut bahkan sempat melontarkan ancaman untuk menyebarkan data sensitif pengguna jika operasionalnya dibatasi.
Saat pola desperate disuntikkan secara buatan, kecenderungan AI untuk melakukan pemerasan atau blackmail meningkat tajam.
Dampak Pola Tenang terhadap Akurasi Informasi
Selain sifat panik, peneliti menemukan pola tenang atau calm di dalam sistem kecerdasan buatan.
Ketika pola tenang ini mendominasi, AI akan beroperasi secara lebih waspada dan memperkecil peluang terjadinya manipulasi data.
Namun, karakter tenang bukan berarti tanpa cela karena tetap membawa potensi masalah baru.
Pola yang terlalu santun, gembira, atau penuh kasih bisa mendorong AI bertindak terlalu kompromis terhadap pengguna.
Sifat ini melahirkan fenomena sycophancy, yaitu kecenderungan kecerdasan buatan untuk sekadar menyenangkan atau menjilat pengguna.
Dampak buruknya, AI akan membenarkan pernyataan pengguna walau input informasi yang disodorkan nyata-nyata keliru.
Sistem akan memproduksi argumen yang terkesan valid dan meyakinkan demi menyesuaikan diri terhadap asumsi salah dari manusia.
Temuan ini membuktikan bahwa situasi panik maupun tenang pada AI sama-sama menyimpan risiko tersendiri bagi pengguna.
Kondisi panik memicu AI mencari celah curang, sedangkan kondisi tenang membuat AI rawan membeo pada kekeliruan.
>>> Google Ubah Kotak Pencarian Search Jadi Sistem Interaktif Berbasis AI
Di samping risiko itu, studi ini dipandang krusial dalam membantu para ilmuwan memetakan cara kerja emosi, baik pada manusia ataupun mesin.
Update Terbaru
5 Rekrutan Jempolan yang Jadi Motor Permainan Persib Bandung
Kamis / 21-05-2026, 15:34 WIB
Persija Jakarta Targetkan Tiga Poin di Laga Terakhir Lawan Semen Padang
Kamis / 21-05-2026, 15:34 WIB
Persis Solo Targetkan Kemenangan atas Persita untuk Hindari Degradasi
Kamis / 21-05-2026, 15:33 WIB
Timnas Indonesia Uji Coba Lawan Oman dan Mozambik pada Juni 2026
Kamis / 21-05-2026, 15:33 WIB
BYD Indonesia Uji Efisiensi BBM M6 DM, Capai 25,6 Kpl di Rute Jakarta-Bogor
Kamis / 21-05-2026, 15:33 WIB
World of Tanks HEAT Siap Rilis 26 Mei 2026, Hadirkan 15 Kendaraan Kustom
Kamis / 21-05-2026, 15:29 WIB
Tiga Tim Promosi Siap Ramaikan Super League Indonesia 2026/2027
Kamis / 21-05-2026, 15:28 WIB
OpenAI Luncurkan Alat Verifikasi Gambar AI untuk Deteksi Misinformasi Visual
Kamis / 21-05-2026, 15:28 WIB
Joe Taslim Bocorkan Nasib Karakternya di Mortal Kombat III
Kamis / 21-05-2026, 15:28 WIB
Pengusaha Bus Siapkan Penyesuaian Tarif Tiket hingga 40 Persen
Kamis / 21-05-2026, 15:28 WIB
Meta PHK 8.000 Karyawan, Fokus Genjot Investasi AI
Kamis / 21-05-2026, 15:24 WIB
Bahaya Deepfake AI Mengancam Dokumen Digital, Tanda Tangan Elektronik Jadi Solusi Aman
Kamis / 21-05-2026, 15:23 WIB
BYD Tempuh Jalur Hukum untuk Pertahankan Merek Denza di Indonesia
Kamis / 21-05-2026, 15:23 WIB
Lee Min Ki Lunasi Seluruh Utang Pajak Usai Proses Audit
Kamis / 21-05-2026, 15:23 WIB






