Meta PHK 8.000 Karyawan, Fokus Genjot Investasi AI
Perusahaan induk Facebook, Meta, telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar delapan ribu karyawan di seluruh dunia.
Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan perusahaan.
>>> Karyawan Dipecat Hapus 96 Database Pemerintah AS Milik Opexus
Kebijakan tersebut diambil seiring fokus Meta yang beralih pada pengembangan kecerdasan buatan atau AI. Pemangkasan jumlah pekerja ini berdampak pada staf Meta di berbagai negara.
Karyawan yang terkena dampak di wilayah Asia menerima pemberitahuan resmi melalui email pada pukul 4 pagi waktu Singapura, Rabu.
Sementara itu, pekerja di Amerika Serikat akan mendapatkan paket pesangon berupa gaji pokok selama 16 minggu atau empat bulan.
Fasilitas itu ditambah upah dua minggu untuk setiap tahun masa kerja karyawan. Selain itu, mereka juga akan memperoleh asuransi kesehatan selama 18 bulan bagi diri sendiri dan keluarga.
Jumlah tersebut tercatat tiga kali lipat lebih banyak dari fasilitas yang diberikan sebelumnya.
Untuk pekerja di luar AS, paket pesangon serupa akan disesuaikan dengan kebijakan yang berlaku di masing-masing negara.
Sejak tahun 2022, Meta tercatat telah mem-PHK lebih dari 30.000 karyawan. Langkah ini sejalan dengan upaya Mark Zuckerberg menggencarkan efisiensi di tengah investasi besar-besaran di bidang AI.
>>> Kekuasaan dalam Infrastruktur Digital: Ancaman Tersembunyi bagi Kedaulatan Indonesia
Meta bahkan telah mengalokasikan dana di atas USD 100 miliar untuk belanja modal AI pada tahun ini.
Zuckerberg juga mendorong para engineer menggunakan agen AI guna membantu proses pengodean serta tugas-tugas lainnya.
Manajemen Meta juga memaparkan rencana untuk melacak perangkat karyawan demi menyempurnakan teknologi tersebut.
Menurut Bloomberg, Zuckerberg bahkan meluangkan waktu memprogram asisten AI pribadinya untuk menangani beberapa tugas CEO, seperti menghimpun masukan karyawan.
"Perusahaan yang sangat mengandalkan otomatisasi seperti Meta berisiko kehilangan daya tariknya sebagai tempat kerja idaman," ujar Jan-Emmanuel De Neve, profesor ekonomi di Universitas Oxford, kepada Bloomberg.
"Karena mulai terlihat jelas bahwa mereka akan menyingkirkan tenaga kerja manusia saat ada kesempatan."
>>> Tren PHK akibat AI Masih Berlanjut, Meta Rumahkan 8.000 Pegawai
"Langkah tersebut memang dapat menghasilkan penghematan biaya jangka pendek, tetapi berisiko mengancam potensi pertumbuhan jangka panjang dengan mengorbankan kesejahteraan dan rasa keterikatan karyawan," pungkasnya.
Update Terbaru
Shohei Ohtani Kembali ke Lineup Dodgers Setelah Cedera Bisep
Senin / 06-07-2026, 07:36 WIB
MP Materials Percepat Integrasi Vertikal di Tengah Lonjakan Permintaan Logam Tanah Jarang
Senin / 06-07-2026, 07:35 WIB
NASCAR Hukum McDowell dan Larson Gagal Inspeksi Teknis
Senin / 06-07-2026, 07:35 WIB
Bubba Wallace Tampilkan Skema Space Jam di Chicagoland Speedway
Senin / 06-07-2026, 07:35 WIB
RBFA Kaget Balogun Bisa Main di AS vs Belgia Usai Kartu Merah
Senin / 06-07-2026, 07:35 WIB
Hope dan Greaves Selamatkan West Indies dari Kejaran Sri Lanka
Senin / 06-07-2026, 07:33 WIB
Lepas Misbud 2026, Menbud Tegaskan Peran Generasi Muda dalam Budaya RI
Senin / 06-07-2026, 07:33 WIB
Nenek 101 Tahun Masih Aktif Zumba, Ini Rahasia Panjang Umurnya
Senin / 06-07-2026, 07:33 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin: Empat Indikator Kesehatan Ini Wajib Dipantau
Senin / 06-07-2026, 07:28 WIB
Netanyahu Klaim Desa Kristen di Lebanon Minta Dicaplok Israel
Senin / 06-07-2026, 07:28 WIB
Resmi: Kick Off Meksiko vs Inggris Diundur 1 Jam
Senin / 06-07-2026, 07:28 WIB
BRIDA Surabaya Olah Sampah Plastik Mangrove Jadi Bahan Bakar Nelayan
Senin / 06-07-2026, 07:23 WIB
Spesifikasi Hyundai Ioniq 3 yang Bakal Muncul di GIIAS 2026
Senin / 06-07-2026, 07:23 WIB
Link Live Streaming Meksiko vs Inggris di 16 Besar Piala Dunia 2026
Senin / 06-07-2026, 07:23 WIB







