Astra Daihatsu Motor Tahan Harga Mobil di Tengah Pelemahan Rupiah

PT Astra Daihatsu Motor (ADM) memutuskan untuk tidak menaikkan harga jual mobilnya meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah.
Keputusan ini diambil di tengah tekanan yang dialami industri otomotif nasional akibat fluktuasi kurs.
>>> VinFast Operasikan Pabrik Subang, VF MPV 7 Jadi Produk Perdana
Manajemen ADM mengakui bahwa pelemahan rupiah memerlukan penyesuaian, terutama karena masih ada komponen impor yang dibeli dengan dolar AS.
Meskipun tingkat lokalisasi produk sudah mencapai lebih dari 80%, beberapa komponen masih harus didatangkan dari luar negeri.
Strategi Efisiensi dan Lokalisasi
Untuk mengantisipasi tekanan nilai tukar, ADM menerapkan strategi efisiensi internal pada proses manufaktur. Perusahaan melakukan restrukturisasi biaya dan mencari cara untuk menekan pengeluaran produksi.
Selain itu, ADM juga berkolaborasi dengan jaringan rantai pasok lokal untuk mengurangi ketergantungan pada komponen impor. Perusahaan membahas pengembangan lokalisasi lebih lanjut bersama para pemasok.
Marketing Director dan Corporate Communication Director ADM, Sri Agung Handayani, menyatakan bahwa depresiasi rupiah berdampak pada seluruh industri manufaktur di Indonesia.
Ia yakin akan ada penyesuaian di berbagai sektor.
Harga Stabil Sejak Awal Tahun
Konsumen yang berniat membeli kendaraan baru mendapatkan kepastian bahwa harga mobil Daihatsu masih stabil. Sri Agung menegaskan bahwa tidak ada kenaikan harga selama lima bulan terakhir.
>>> Krisis Energi Timur Tengah Dorong Penjualan Kendaraan Listrik Global
Untuk jangka pendek dan menengah, ADM membagi tahapan pengembangan komponen lokal. Target jangka pendek enam bulan, sedangkan jangka menengah satu hingga satu setengah tahun ke depan.
Proyeksi Bank Indonesia
Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan stabil dan menguat pada Juli hingga Agustus 2026.
Kebijakan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% diharapkan dapat menahan tekanan global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor global seperti konflik geopolitik, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar AS.
BI mengintensifkan intervensi pasar valas melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik modal asing.
Dengan kondisi makroekonomi domestik yang positif, BI meyakini rupiah akan stabil pada Juni dan cenderung menguat pada Juli dan Agustus.
>>> Daftar Harga Honda HRV Bekas per 21 Mei 2026 Mulai Rp 150 Jutaan
Perry menambahkan bahwa secara historis, rupiah memang mendapat tekanan pada April hingga Juni, namun akan menguat pada bulan-bulan berikutnya.
Update Terbaru
5 Rekrutan Jempolan yang Jadi Motor Permainan Persib Bandung
Kamis / 21-05-2026, 15:34 WIB
Persija Jakarta Targetkan Tiga Poin di Laga Terakhir Lawan Semen Padang
Kamis / 21-05-2026, 15:34 WIB
Persis Solo Targetkan Kemenangan atas Persita untuk Hindari Degradasi
Kamis / 21-05-2026, 15:33 WIB
Timnas Indonesia Uji Coba Lawan Oman dan Mozambik pada Juni 2026
Kamis / 21-05-2026, 15:33 WIB
BYD Indonesia Uji Efisiensi BBM M6 DM, Capai 25,6 Kpl di Rute Jakarta-Bogor
Kamis / 21-05-2026, 15:33 WIB
World of Tanks HEAT Siap Rilis 26 Mei 2026, Hadirkan 15 Kendaraan Kustom
Kamis / 21-05-2026, 15:29 WIB
Tiga Tim Promosi Siap Ramaikan Super League Indonesia 2026/2027
Kamis / 21-05-2026, 15:28 WIB
OpenAI Luncurkan Alat Verifikasi Gambar AI untuk Deteksi Misinformasi Visual
Kamis / 21-05-2026, 15:28 WIB
Joe Taslim Bocorkan Nasib Karakternya di Mortal Kombat III
Kamis / 21-05-2026, 15:28 WIB
Pengusaha Bus Siapkan Penyesuaian Tarif Tiket hingga 40 Persen
Kamis / 21-05-2026, 15:28 WIB
Meta PHK 8.000 Karyawan, Fokus Genjot Investasi AI
Kamis / 21-05-2026, 15:24 WIB
Bahaya Deepfake AI Mengancam Dokumen Digital, Tanda Tangan Elektronik Jadi Solusi Aman
Kamis / 21-05-2026, 15:23 WIB
BYD Tempuh Jalur Hukum untuk Pertahankan Merek Denza di Indonesia
Kamis / 21-05-2026, 15:23 WIB
Lee Min Ki Lunasi Seluruh Utang Pajak Usai Proses Audit
Kamis / 21-05-2026, 15:23 WIB






